Jumat, 18 April 2014

Good Friday



YESUS KRISTUS benar-benar DISALIB dan MATI.

Kematian YESUS bukan suatu aib bagi kekristenan.
Sebab kematian-Nya adalah TUJUAN UTAMA datang ke dunia.

DIA mati untuk MENEBUS dan MENGHAPUS DOSA manusia.

DIA mati untuk MENDAMAIKAN manusia dari perseteruan dengan ALLAH.

DIA mati untuk memberikan HIDUP YANG KEKAL bagi setiap orang yang PERCAYA KEPADA-NYA.

Sudah Selesai


Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. (Yohanes 19:30).

Kamis, 17 April 2014

BUKTI YESUS MATI


Alkitab mengatakan bahwa Allah datang ke dunia sebagai manusia untuk membayar hukuman mati bagi dosa dunia (Yohanes 1:1-29; Roma 6:23). Alkitab juga mengatakan bahwa apabila Yesus tidak berkuasa atas kematian dan keluar dari kubur batu yang dingin itu, Dia tidak dapat memberikan kemenangan atas kematian bagi kita (1 Korintus 15:12-19).

Pertanyaannya, apakah Yesus benar-benar mati?

Kita harus memulainya dengan kabar buruk. Perseteruan antara Yesus dan para pemimpin agama Israel harus dibayar dengan hidup-Nya. Tatkala tubuh-Nya diturunkan dari kayu salib di Golgota, Dia telah mati. Kebenaran tentang kebangkitan itu benar-benar bergantung pada fakta ini.
Jika Yesus memang pingsan seperti yang dikatakan oleh beberapa pengkritik, maka tidak perlu ada kebangkitan. Untuk mengalami kebangkitan, seseorang harus mati terlebih dahulu. Menolak kematian Kristus berarti menghapus semua kemungkinan kebangkitan. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa Dia sungguh-sungguh mati.

Dalam terjemahan New International Version (NIV), catatan keempat Injil tentang penyaliban Kristus mengungkapkan kematian-Nya dalam dua istilah yang berbeda. Dalam Matius 27:50 dan Yohanes 19:30, kedua penulis mengatakan bahwa Dia "menyerahkan" Roh-Nya. Sedangkan, Markus 15:37 dan Lukas 23:46 mencatat bahwa Dia "menghentikan napas-Nya" yang terakhir.

Sesungguhnya Matius, Markus, dan Lukas mencatat suatu peristiwa yang terjadi dalam waktu yang sama, tidak jauh dari Kalvari. Mereka menuliskan bahwa ketika Yesus mati, "tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah" (Markus 15:38). Mukjizat ini menandai berakhirnya era keterbatasan hubungan dengan Allah dan dihentikannya pengorbanan hewan seperti dalam Perjanjian Lama. 

Namun, bukan hanya itu. Mukjizat itu juga membuktikan kematian Yesus karena kematian-Nya memperlihatkan bahwa pengurbanan-Nya yang sempurna sesuai dengan kehendak Allah. Selama berabad-abad, Allah meminta hewan korban yang tidak bercacat cela sebagai penebus dosa. Kristus sebagai Domba Allah yang tidak bercacat cela telah menjadi kurban yang terakhir. Tabir tidak lagi dibutuhkan karena jalan masuk kepada Allah telah terbuka bagi orang yang percaya kepada-Nya.
Beberapa peristiwa yang terjadi di sekitar penyaliban membuktikan bahwa Yesus telah mati.
  • Para prajurit Romawi tidak mematahkan kaki Yesus karena mereka melihat bahwa "Ia telah mati" (Yohanes 19:33).
  • Para prajurit menikam lambung Yesus dengan tombak dan dari dalam lambungnya keluar air dan darah (Yohanes 19:34). Para ahli kedokteran mengatakan bahwa apabila Dia belum mati saat itu, maka tindakan ini benar-benar akan mengambil nyawanya. Sebagian orang yang lain menyimpulkan bahwa mengalirnya air dan darah dari lambung-Nya membuktikan bahwa Yesus benar-benar sudah mati.
  • Tatkala Yusuf dari Arimatea meminta tubuh Kristus sehingga ia dan Nikodemus dapat mengubur-Nya, Pontius Pilatus memerintahkan seorang kepala pasukan untuk membuktikan bahwa Yesus telah mati (Markus 15:43-45). Gubernur Romawi tidak akan memberikan tubuh itu kepada Yusuf sebelum kepala pasukan itu yakin bahwa sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada tubuh Yesus. Anda boleh yakin bahwa seorang pejabat militer Romawi tidak mungkin melakukan kesalahan dalam hal sepenting ini, yang harus ia laporkan kepada pejabat yang lebih tinggi, seperti Pilatus.
  • Yusuf dan Nikodemus mempersiapkan penguburan bagi jasad tersebut secara adat Yahudi, termasuk mengafani-Nya dengan "kain lenan yang putih bersih" (Matius 15:46), mengurapi Tubuh itu dengan "campuran minyak mur dengan minyak gaharu" (Yohanes 19:39), dan membaringkan-Nya "di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu" (Markus 15:46). Sudah jelas di sini bahwa teman-teman yang merasa kehilangan sudah memeriksa semua tanda-tanda kehidupan yang mungkin masih ada. Mereka tentu saja tidak akan menguburkan Yesus yang masih hidup.
  • Kaum Farisi dan para pemuka agama bertemu dengan Pilatus untuk membicarakan peristiwa yang telah terjadi. Mereka ingat akan ucapan Yesus "sewaktu hidup-Nya" (Matius 27:63), dan mereka memerintahkan para prajurit untuk mengamankan kubur, yaitu menutupnya dengan batu. Tidak hanya itu, mereka juga lebih mengetatkan penjagaan dengan mengutus beberapa prajurit untuk mencegah para murid "mencuri-Nya (Matius 27:64). Tidak diragukan lagi, mereka juga tahu bahwa sesungguhnya Yesus telah mati.
Ignatius, seorang sejarawan abad ke-2 mengatakan, "Yesus disalibkan dan mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Dia sungguh-sungguh dan bukan sekadar kelihatan -- disalibkan, mati, disaksikan oleh seluruh makhluk di surga dan di bumi, serta di bawah bumi. Dia juga bangkit kembali pada hari yang ketiga."

 

Sabtu, 12 April 2014

Manusia Sombong Akan Ditundukkan

 
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sombong. Kesombongan itu berbahaya. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan" (Amsal 16:18).

Kerendahan-hati membawa kehormatan. "Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian" (Amsal 29:23).

Allah menetapkan diri-Nya menentang orang yang sombong. Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1 Petrus 5:5-6).

Kesombongan dapat menjauhkan diri dari Allah dan dari orang-orang lain. "Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar". (Lukas 18:1-4).

Kerendahan-hati seperti anak-anak dihargai oleh surga. "Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga". (Matius 18:4).

Orang yang sombong akan dikecewakan. "Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan". (Matius 23:12).

Mereka yang sombong akan jatuh. "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12).

Pendaratan yang Aman



Tuhan tidak menjanjikan PERJALANAN yang TENANG,
tetapi PENDARATAN yang AMAN.

Jumat, 11 April 2014

Benarkah Singkatan "LOL" Berhubungan Dengan Setan ?

Pernahkah Anda melihat atau bahkan menggunakan istilah-istilah untuk Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya ? 
Istilah-istilah dalam media sosial memang sangat banyak yang berupa singkatan sebuah kata-kata. Akronim merupakan kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata. Anda pasti sering melihat istilah-istilah seperti LOL, ROFL, BRB, BTW, YOLO dan akronim lainnya. Singkatan kata yang digunakan seseorang saat menggunakan situs jejaring sosial memang lucu-lucu.

Bahkan belum lama ini, remaja Indonesia juga digemparkan dengan kata “ciyus” dan “miapah”. Kedua singkatan kata tersebut sempat menjadi heboh di kalangan media sosial, bahkan media elektronik, seperti televisi dan radio. Kabarnya, kedua singkatan itu memang berasal dari situs jejaring sosial.

Namun, ada kabar bahwa akronim-akronim tersebut merupakan singkatan yang berhubungan dengan setan. Apakah itu benar?

Akronim OMG, LOL, BRB, ROFL, dan lain sebagainya itu memang sering digunakan oleh para pengguna situs jejaring sosial, seperti Twitter, Facebook, Instagram, Path, dan situs jejaring sosial lainnya. Namun, kabar yang didapat dari livescience.com, akronim itu dianggap kerap digunakan oleh para pemuja setan.

Akronim LOL = Laughing Out Loud dan ROFL = Rolling On the Floor Laughing memang kerap dgunakan oleh para pengguna situs jejaring sosial. Kedua akronim tersebut untuk mengekspresikan tertawa terbahak-bahak.

Namun, ada pula yang mengartikan bahwa LOL merupakan singkatan dari Lucifer Our Lord. Istilah itu biasanya digunakan untuk pemujaan yang dilakukan para pemuja Lucifer. Lucifer merupakan nama yang seringkali diberikan kepada iblis dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya.

Selain itu, ada juga yang memparodikan ROFL menjadi Rise Our Father, Lucifer yang memang terdengar kalimat untuk memuja setan.  
BRB yang artinya Be Right Back atau akan segera kembali juga diparodikan menjadi Beelzebul Rules Below. Beelzebul merupakan nama yang dipercaya bangsa Yahudi kuno sebagai dewa di kota Ekron, di Philistines, nama kuno untuk wilayah yang sekarang dikenal dengan sebutan Palestina. Selain itu, ada juga yang menyebut Beelzebul sebagai perwujudan setan. 
Kata YOLO juga sering kita lihat, singkatan sebenarnya adalah You Only Live Once. Namun istilah YOLO ini juga sering diartikan dengan Youth Obeying Lucifer's Orders. Kalimat ini seperti pesanan Lucifer berupa pemuda yang patuh.

Dilansir sumber yang sama, sebuah kelompok yang menamakan dirinya Westboro Baptist Church menyarankan kepada pengguna internet agar tidak lagi menggunakan istilah-istilah, seperti LOL, BRB, dan lain sebagainya karena akronim tersebut merupakan kata lain dari penyembahan setan.

Pro dan kontra akan arti akronim tersebut memang kerap muncul hingga saat ini. Pada tahun 2008, Katherine Barber, Chief Editor dari Canadian Oxford Dictionary menjelaskan bahwa akronim-akronim tersebut memang mirip dengan apa yang digunakan telegraf pada zaman dahulu.

Selain itu, Barber juga menjelaskan bahwa menggunakan akronim-akronim tersebut bukanlah suatu hal yang tidak sopan. Pemakaian singkatan kata tersebut berfungsi sebagai pemendek kata atau kalimat dengan penggabungan huruf kapital dan angka.

Dilansir dari Mashable.com, penggunaan akronim tersebut sebenarnya tergantung situasi dan siapa yang menggunakannya. Misalnya, LOL dalam terminologi dunia kesehatan memiliki arti Little Old Lady atau nenek-nenek bungkuk. 
Jadi, bisa ditarik kesimpulannya bahwa pengguna akronim-akronim tersebut di internet tergantung siapa yang memakainya, untuk apa, dan dalam kondisi atau konteks apa.