Rabu, 29 Juni 2011

Renungan Harian Kristen - BERKAT

Bacaan Alkitab : Ayub 42:1-17

“TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu;…” (Ayub 42:12a)


Ada seseorang yang menemui saya dan menceritakan niatnya untuk masuk agama Kristen. Ia mengatakan: “Hidup saya sangat susah, Pak. Saya lihat orang Kristen itu kaya-kaya, makanya saya mau masuk Kristen.” Lalu saya bertanya kepadanya, “Tapi nanti kalau kamu masuk Kristen, terus hidupmu malah bertambah sengsara, usahamu bangkrut, kamu akan bagaimana?” Tampaknya, ia agak terkejut mendengar pertanyaan saya, mungkin ia tidak menyangka saya akan bertanya seperti itu.

Dalam penderitaannya, Ayub berani berdebat dengan Allah. Bahkan hamper keseluruhan kitab Ayub sebenarnya berisikan pembelaan Ayub yang ditujukan kepada Allah, mengapa semua peristiwa-peristiwa buruk itu terjadi dalam hidupnya. Meski demikian, pada akhirnya, Ayub harus menerima keterbatasan-keterbatasannya. Tuhan menjawab pertanyaan dan keluh kesah Ayub, tetapi tidak semua pertanyaan dan keluh kesah itu terjawab. Ada hal-hal yang tetap tinggal menjadi misteri. Tetapi jawaban Tuhan telah mengubah sikap Ayub. Ia mencabut perkataannya dan menyesali diri (42:6). Tuhan kemudian memulihkan keadaan Ayub dan memberkatinya lebih dari sebelumnya.

Tentu Saudara juga mendambakan berkat-berkat dari Tuhan. Ada orang yang berpandangan: kalau ada keluarga Kristen yang selalu menderita, pastilah bukan keluarga Kristen yang diberkati. Namun dari kisah hidup Ayub, kita belajar bahwa penderitaan bukanlah pertanda bahwa hidup kita tidak diberkati. Namun juga sebaliknya, kesuksesan hidup bukanlah pertanda bahwa kita sudah diberkati. Yang terpenting ialah bahwa dalam pengalaman suka maupun duka, dengan penuh kesabaran kita tetap mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. 


TUHAN MEMBERKATI


Penderitaan tidak selamanya berdiam dalam hidup kita, semua itu hanyalah pembentukan dan pembelajaran agar kita lebih kuat dalam hidup dan lebih peka terhadap orang-orang yang susah dan menderita, seperti yang kita alami sebelumnya. (Samuel Sadusi).


Renungan Harian Kristen - JODOH

Bacaan Alkitab : Kejadian 2:8-25

“…tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.”
(Kejadian 2:20b).


Seorang pemuda di sebuah gereja menceritakan dengan penuh kesedihan kegagalannya untuk mendapatkan jodoh. Beberapa kali ia telah “menembak” beberapa orang pemudi, tetapi selalu ditolak. Sekali ia mendapatkan gadis idamannya, ehh…orangtuanya lagi yang keberatan dengan pilihannya itu.

Manusia pertama, Adam, juga kesulitan mencari jodoh. Tuhan telah menciptakan segala binatang di darat dan burung-burung di udara dan membawanya kepada Adam untuk diberi nama, sekaligus juga memberi kesempatan bagi Adam untuk mencari jodohnya. Tetapi ternyata Adam tidak menemukannya. Dari segala binatang yang ada, tak ada satu pun yang sepadan dengan Adam. Itulah sebabnya Tuhan kemudian menciptakan perempuan, Hawa, sebagai penolong yang sepadan bagi Adam.

Mencari jodoh itu memang tidak mudah. Ada banyak faktor yang membuat kita bisa tertarik pada orang lain, ataupun sebaliknya, yang membuat orang lain tertarik kepada kita. Tidak perlu malu jika sampai sekarang Saudara masih jomblo. Tak perlu kuatir bahwa Saudara tidak akan mendapat jodoh sepanjang hidup. Sean Covey dalam bukunya The 7 Habits Highly Effective Teens, menuliskan: Kamu seharusnya tidak merasa berkecil hati kalau ada lawan jenis (yang sungguh kamu ingin jadikan pacar) tidak mau sama kamu. Mungkin kamu anggur yang paling menggiurkan, tetapi mungkin saja yang ia cari adalah pisang. Tetapi jangan kuatir, pasti akan ada yang mencari anggur. Oleh sebab itu, bersabarlah juga dalam mencari jodoh, Tuhan sendiri yang akan mempertemukanmu  dengan dia yang akan menjadi penolong yang sepadan bagimu.


TUHAN MEMBERKATI


Teruslah berjalan kedepan karena pasangan yang sepadan dengan Anda juga
sedang berjalan ke arah Anda.
(Samuel Sadusi).

 

Renungan Harian Kristen - DIMULAI DARI YANG KECIL

Bacaan Alkitab : Yohanes 6:1-15

“Disini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan, 
tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yohanes 6:9)


Pernahkah Saudara mendengar kata-kata bijak ini : Dengan kapak kecil orang dapat merobohkan pohon besar? Kata-kata ini mengingatkan kita supaya tidak meremehkan hal-hal yang kecil atau yang sedikit. Sebab dari apa yang kecil dan sedikit itu seringkali justru menjadi awal sejarah yang besar.

Inilah yang barangkali terlupakan oleh Filipus dan Andreas. “Uang yang ada pada kita hanya dua ratus dinar,” keluh Filipus. “Kita hanya punya lima roti jelai dan dua ikan”, sambung Andreas. Sedangkan kebutuhan begitu banyaknya. Persoalan begitu besarnya! Ada 5000 orang laki-laki yang belum makan, belum lagi anak-anak dan perempuan. Ini terlalu kecil, terlalu sedikit. Akan tetapi Yesus mengajak para murid untuk mulai dengan yang kecil dan sedikit itu, memulai pelayanan mereka dengan apa yang ada pada mereka, walau kecil dan sedikit, walau cuma dua roti dan dua ikan. Dan ketika mereka mau memulai karya mereka dengan yang kecil dan sedikit itulah, mereka justru menyaksikan mujizat Tuhan. Andaikan mereka enggan memulai dengan yang kecil dan sedikit itu, barangkali mereka tidak akan pernah menyaksikan mujizat Tuhan hari itu.

Apakah Saudara ingin menyaksikan mujizat Tuhan terjadi dalam hidup Saudara hari ini? Bahkan dalam persoalan-persoalan hidup yang sekarang sedang Saudara hadapi? Mulailah dengan apa yang kamu punyai dan tetaplah melangkah, walaupun itu mungkin kecildan sedikit sekali. Jikalau dengan penuh kesabaran Saudara mau memulai dengan yang kecil dan sedikit itu, Saudara akan menyaksikan Tuhan yang akan menolong Saudara melalui apa yang Saudara anggap kecil atau sedikit itu.


TUHAN MEMBERKATI


Kerjakanlah apa saja yang bisa Anda kerjakan walaupun itu pekerjaan yang kecil dan sepele bagi orang lain, tapi itu akan membawa dampak yang besar jika Anda mengerjakannya dengan sukacita.
(Samuel Sadusi).




Renungan Harian Kristen - MENGASAH

Bacaan Alkitab : Matius 4:12-17

“Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.” 
(Matius 4:12)


Abraham Lincoln, presiden AS yang menghapus sistem perbudakan, pada suatu waktu ditanya, “Apa yang akan Bapak lakukan kalau punya waktu delapan jam untuk menebang pohon?”. Lincoln menjawab, “Empat jam pertama akan saya gunakan terlebih dahulu untuk mengasah gergajinya.”

Bagi Yesus, Yohanes Pembaptis adalah seorang yang lebih dari sekedar orang yang telah membaptis-Nya. Bagi-Nya, Yohanes adalah seorang sahabat dan teman seperjuangan. Ia dan Yohanes memiliki kepedulian yang sama. Mereka sama-sama mewartakan pesan yang sama dari Bapa, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! (Matius 3:1-2). Bagi pemerintah Romawi, berita tentang Kerajaan Sorga dimengerti secara politis, yakni sebagai suatu bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Oleh karena itu, ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, Yesus segera menyingkir ke Galilea. Ia bisa saja memiliki nasib yang sama seperti Yohanes, ditangkap karena pemberitaan tentang Kerajaan Sorga. Penangkapan Yohanes mau tidak mau mendorong Yesus untuk melihat ulang apa yang menjadi panggilan hidup-Nya. Apakah Ia akan tetap mewujudkan panggilan hidup-Nya itu, ataukah tidak. Dan di Galilea, Yesus rupanya “mengasah gergaji”-Nya untuk mempertajam dan meneruskan panggilan hidup-Nya.

Setiap orang perlu “mengasah gergaji”-nya masing-masing, yakni saat dimana kita meluangkan waktu bagi batin kita untuk mempertajam dan mengembangkan keimanan kita. “Mengasah gergaji” iman tentu saja butuh waktu dan kesabaran. Meskipun demikian, semakin sering kita mengasahnya, semakin kita lebih peka mengenal kehendak Tuhan dalam hidup kita dan setia pada panggilan hidup kita.


TUHAN MEMBERKATI

Keinginan duniawi akan membuat seseorang lupa akan tujuan dan panggilan hidupnya. (Samuel Sadusi).

Minggu, 26 Juni 2011

RENUNGAN HARIAN KRISTEN

Renungan Harian Kristen adalah sebuah catatan renungan yang membantu Anda untuk merenungkan perjalanan hidup sehari-hari. Renungan Harian Kristen ini bertujuan untuk menjadikan Saudara dan saya sebagai manusia yang kuat dalam Tuhan dan bisa semakin meneguhkan iman kita kepada Kristus, dan akan menuntun hidup kita setiap hari.

Dalam Blog Yesmaya ini, Anda dapat menemukan kumpulan Renungan Kristen, Kumpulan Khotbah, Kata-kata Bijak Kristen, Kata-kata Motivasi Kristen, Kesaksian, Video Kesaksian, Kumpulan Lagu Rohani Kristen, Humor KristenArtikel Kristen, Cerpen Kristen, dan masih banyak lagi.

Kami berharap agar hidup saya dan Anda semua bisa di ubahkan melalui Renungan Harian Kristen ini. Karena kita sama-sama mengetahui, hidup di akhir zaman ini sangatlah susah. Saat ini, banyak orang-orang Kristen yang stress, depresi, dan putus asa. Semua itu disebabkan karena kurangnya iman dan pengetahuan tentang Firman Tuhan.
Dengan adanya Blog Renungan Harian Kristen ini, kita semua bisa semakin mengerti arti dan tujuan hidup kita yang sebenarnya. Kami menyadari, Blog ini masih sangat sederhana dibandingkan Blog-blog sejenis maupun situs-situs Kristen lainnya. Tapi kami yakin dan percaya, semuanya mempunyai tujuan yang sama.

Anda juga dapat begabung bersama kami di Facebook. Terimakasih bagi Saudara/i yang telah bergabung di Facebook Renungan Harian Kristen.  

Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih bagi Anda yang mengunjungi Blog ini, dan kami sangat menghargai komentar maupun kritik yang membangun demi kemajuan Blog ini dan untuk kepentingan kita bersama.

TUHAN YESUS MEMBERKATI

By : Renungan Harian Kristen


Renungan Harian Kristen - KEKUATAN SEPATAH KATA

Bacaan Alkitab : Matius 8:5-13

Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, 
katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. (Matius 8:8)


Apakah kamu pernah merasa menyesal telah mengucapkan kata-kata tertentu kepada orang lain yang kemudian kamu tahu kata-kata itu melukai hatinya? Atau, apakah kamu pernah merasa senang setelah kamu tahu kata-kata yang kamu ucapkan kepada seseorang ternyata membuatnya berbahagia, bersemangat dan tidak lagi berputus asa? Kata-kata memang tidak pernah bersifat netral. Kata-kata bisa melukai hati, tetapi sebaliknya, juga bisa menyembuhkan luka hati.

Perwira di Kapernaum itu sadar betul terhadap daya dan pengaruh sepatah kata. Sebenarnya, perwira itu tidak perlu mencari penyembuhan bagi  hambanya itu (terjemahan lebih tepat: budaknya). Ia berhak menjual budak yang lumpuh ini dan membeli budak lain yang lebih kuat. Tetapi ternyata perwira itu memperlakukan budaknya dengan penuh kasih. Ia datang kepada Yesus dan memohon supaya Yesus menyembuhkan budak itu. Ia yakin, asal Yesus mau mengucapkan sepatah kata saja, budak itu akan sembuh. Keyakinannya itu menggambarkan imannya yang besar kepada Yesus dan bahwa kata-kata Yesus memiliki kuasa dan daya teraupetis/penyembuhan yang luar biasa.

Ketika kita tahu bahwa kata-kata yang kita ucapkan bisa menyembuhkan dan membangun kehidupan seseorang, atau sebaliknya, juga dapat melukai dan menghancurkan kehidupan seseorang, bukankah saatnya bagi kita untuk lebih bijak dalam berkata-kata? Adalah penting untuk juga sabar dalam berkata-kata. Coba perhatikanlah kata-kata yang kita ucapkan akhir-akhir ini, manakah yang lebih banyak: kata-kata yang menyakitkan hati, ataukah yang membangun hidup orang lain?


TUHAN MEMBERKATI

Kata-kata yang kita ucapkan dapat menjadi berkat dan juga menjadi bencana bagi orang lain. 
Karena setiap perkataan yang kita ucapkan mempunyai kuasa. (Samuel Sadusi).


RENUNGAN HARIAN KRISTEN

Renungan Harian Kristen - DAYA TRANSFORMATIF FIRMAN

Bacaan Alkitab : Mazmur 119:89-105

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” 
(Mazmur 119:105)


Seorang bapak, dalam suatu Penelaahan Alkitab, bercerita bahwa dulunya ia beragama lain, dan ia begitu membenci orang Kristen. Jika kini ia beriman kepada Yesus, itu bukan karena ia diajak oleh seorang Kristen, melainkan karena ia sering membaca Alkitab. Walaupun semula ia membaca Alkitab dengan tujuan untuk mencari kelemahan-kelemahan Alkitab dan iman Kristen. Namun pada waktu membaca Alkitab itulah, ternyata ia justru menemukan kebenaran yang membimbingnya untuk percaya pada Yesus. Jadi, bapak ini telah mengalami daya transformatif Alkitab.

Pemazmur pun mengalami hal yang sama. Hidupnya mengalami proses transformasi (perubahan) ketika ia merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan itu membuatnya menjadi semakin bijaksana, menjadi semakin berakal budi, dan semakin dalam pemahamannya akan kehidupan ini dibandingkan dengan orang-orang seusianya atau yang lebih tua usianya.

Firman Tuhan itu juga membuatnya tidak tergoda untuk berbuat jahat dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, Pemazmur telah mengalami daya transformatif Firman Tuhan, sehingga ia berkata bahwa Firman Tuhan menjadi pelita dan terang bagi hidupnya.  

Apakah Saudara pun ingin merasakan daya transformatif Alkitab? Bacalah Alkitab dengan pikiran dan hati yang terbuka, bukan dengan pikiran dan hati yang tertutup. Pikiran dan hati kita tertutup, jikalau kita membaca Alkitab dengan tergesa-gesa, tanpa meresapkan dan merasakan apa yang kita baca. Itu berarti, agar kita bisa mengalami daya transformatif Alkitab, kita harus membaca Alkitab dengan kesabaran.

TUHAN MEMBERKATI


Ketekunan membaca Firman Tuhan akan membuat hidup kita lebih berarti, lebih mengasihi sesama, dan lebih peka terhadap keadaan orang lain. (Samuel Sadusi).


RENUNGAN HARIAN KRISTEN

Renungan Harian Kristen - MARAH

Bacaan Alkitab : Yeremia 32:36-41

“Sesungguhnya, Aku mengumpulkan mereka dari segala negeri, ke mana Aku menceraiberaikan mereka karena murka-Ku, kehangatan amarah-Ku dan gusar-Ku yang besar, dan Aku akan mengembalikan mereka ke tempat ini dan akan membuat mereka diam dengan tenteram.” (Yeremia 32:37)


Apakah Saudara termasuk tipe orang yang mudah marah ketika kamu dikecewakan oleh seseorang? Ataukah kamu termasuk orang yang sabar dan tidak mudah marah, atau bahkan kamu orang yang tidak bisa marah, walaupun mungkin kamu merasa disakiti?

Ternyata Tuhan pun bisa marah. Tuhan marah terhadap umat Israel. Kepada umat yang adalah umat kesayangan-Nya itu, Tuhan murka. Tuhan gusar melihat ketidaksetiaan mereka. Dia selalu mengasihi umat-Nya itu, tetapi umat Israel justru selalu menyakiti hati Tuhan. Tuhan menampakkan kemarahan-Nya dengan membiarkan kerajaan Yehuda berada dalam tawanan bangsa Babel. Namun Tuhan tidak marah untuk selamanya. Kemarahan Tuhan ada batasnya. Setelah menampakkan kemarahan-Nya, Tuhan merawat umat-Nya itu kembali, disembuhkan-Nya luka-luka mereka dan dipulihkan-Nya keadaan mereka. Kemarahan Tuhan tidak berakhir dengan kemarahan. Kemarahan Tuhan justru berakhir dengan pengampunan dan rehabilitasi bagi umat yang disayangi-Nya itu.

Tidak ada yang salah dengan kemarahan, jika itu dengan alasan dan cara yang tepat. Orang Kristen boleh saja marah ketika merasa disakiti, diperlakukan tidak adil, dan tidak dihargai nilai-nilai kemanusiaannya. Menjadi orang yang sabar, tidak berarti tidak boleh marah. Kemarahan adalah suatu bentuk protes kita terhadap ketidakadilan dan dehumanisasi. Yang penting, kemarahan itu diungkapkan untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi semuanya, bukan dengan menghancurkannya.   


TUHAN MEMBERKATI

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: 
janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Efesus 4:26)


Renungan Harian Kristen - TO BE NUMBER ONE ?

Bacaan Alkitab : Lukas 1:67-80

“Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya. (Lukas 1:76)



Children of Heaven adalah salah satu film yang mengesankan hati saya. Ceritanya tentang seorang anak kecil bernama Ali Mandegar yang tidak ingin menjadi juara pertama dalam suatu perlombaan lari. Ia kukuh hanya ingin menjadi juara ketiga. Mengapa? Karena hadiah untuk juara ketiga itu adalah sepasang sepatu olahraga. Ia telah menghilangkan sepatu milik adik perempuannya, Zahra. Ali dan Zahra yang masih SD itu adalah anak dari keluarga miskin yang tinggal di pinggiran Teheran. Dan jalan satu-satunya untuk mempunyai sepatu adalah memenangkan juara ketiga dalam lomba lari tersebut. Jadi dalam lomba itu, Ali mengatur timing larinya, supaya selalu bisa berada dalam posisi nomor tiga.

Zakharia merelakan anaknya tidak menjadi orang nomor satu dalam rangkaian karya Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Ia tidak protes ketika anaknya hanya sekedar menjadi bayang-bayang bagi kehadiran Yesus. Ia tidak mengeluh ketika anaknya hanya akan menjadi perintis jalan bagi kedatangan Yesus. Bukan Yohanes yang akan menjadi nomor satu, tetapi Yesus! Meskipun demikian, ia menerima itu dengan kerendahan hati dan penuh ucapan syukur!

Banyak orang tidak sabar untuk menjadi orang nomor satu. Bahkan untuk menjadi nomor satu itulah, banyak orang yang tega mengorbankan sesamanya. Manakah yang akan kamu pilih; menjadi nomor satu tetapi mengorbankan sesama, ataukah tidak menjadi nomor satu juga tidak apa-apa, asalkan tidak mengorbankan sesama?


TUHAN MEMBERKATI

Kebahagiaan yang sejati tidak harus menjadi yang utama dalam bidangnya, 
melainkan kerendahan hati dan ucapan syukur atas apa yang dimilikinya. (Samuel Sadusi).
 

Renungan Harian Kristen - BEDA

Bacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 10:1-48

Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya : 
“Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang…” (Kisah 10:34)



Perjuangan untuk mencari model hubungan antar agama di Indonesia terus berlangsung. Ulil Abshar-Abdala, salah seorang tokoh perintis dialog antar agama di Indonesia, memimpikan suatu wadah yang dapat diibaratkan sebagai sebuah rumah besar yang didiami bersama oleh berbagai tradisi keagamaan yang berbeda-beda. Di rumah itu, masing-masing tradisi akan mempunyai kamar sendiri, tetapi dapat bertemu di ruang mana saja: di teras, di ruang tamu, bahkan di dapur sekalipun. Mereka bisa bercanda atau bersitegang. Malah tidak menutup kemungkinan, kalau kehidupan bersama sudah akrab, para penghuninya bisa saling melihat, mengintip, bahkan nyelonong masuk ke kamar orang lain.

Melalui pertemuannya dengan Kornelius, Rasul Petrus belajar memahami bahwa Allah juga mengasihi orang-orang bukan Yahudi. Sebenarnya tidak mudah bagi Petrus untuk berpandangan bahwa Allah juga mengasihi orang-orang bukan Yahudi. Sebagai orang Yahudi, tentulah sejak kecil sudah ditanamkan kepadanya sistem ketahiran. Sistem ketahiran ini mengatur masalah suci dan najis, haram dan halal, yang tidak hanya menyangkut masalah tempat, makanan, tetapi juga dalam hubungan dengan orang-orang. Pada umumnya orang bukan Yahudi dianggap najis. Tetapi pada akhirnya Petrus mengerti bahwa Allah ternyata tidak mebeda-bedakan orang.

Keterbukaan Paulus kemudian membuka jalur dialog, bukan saja antar dirinya dengan Kornelius, tetapi juga lebih jauh lagi, pada karya Allah bagi banyak orang dari berbagai bangsa dan agama. Dan ini mestinya kita lanjutkan dan perjuangkan terus menerus agar juga terwujud dalam masyarakat kita di Indonesia. Jadilah pelopor-pelopor yang membangun rumah besar itu.


TUHAN MEMBERKATI

Jangan menjadikan perbedaan untuk mencari pembenaran akan diri sendiri, tapi jadikanlah perbedaan itu menjadi wadah untuk saling mengenal dan membina hubungan yang lebih harmonis (Samuel Sadusi).

RENUNGAN HARIAN KRISTEN
 

Renungan Harian Kristen - KEMERDEKAAN

Bacaan Alkitab : Roma 8:18-30

“…penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan 
yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 8:18).


Victor Emil Frankl
Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben, artinya : apapun yang kamu alami, tak ada kekuatan di bumi yang dapat mengambilnya darimu. Inilah keyakinan hidup Victor Emil Frankl, seorang psikiater Yahudi yang bertahan hidup di kamp konsentrasi Auscwitz. Apa yang sesungguhnya diyakini oleh Frankl adalah bahwa sesulit apapun kehidupan yang kita hadapi, kita masih memiliki kebebasan terakhir untuk menentukan dan memilih sikap kita sendiri, yakni memilih untuk tetap menjaga potensi kemerdekaan spiritual kita, meskipun dalam kondisi tekanan secara fisik, maupun psikologis.

Dalam pandangan Rasul Paulus, semua manusia berada dalam situasi perbudakan dosa dan hukum maut. Meski demikian, Kristus telah memerdekakan orang percaya dari kuasa dosa dan maut tersebut. Namun tidak berarti orang Kristen otomatis menjadi bebas dari tekanan hidup sehari-hari. Mereka tentu masih terus menerus bergumul melawan segala keinginan daging yang kembali ingin memperbudak mereka. Mereka juga masih berhadapan dengan tekanan-tekanan luar (baik orang Yahudi maupun Romawi) yang tidak menyukai keberadaan mereka. Mereka bisa saja menyerah terhadap tekanan itu, atau menghadapinya dengan penuh kesabaran dan kesetiaan kepada Kristus.

Saudaraku, kita mendengar masih banyak umat beragama yang tidak bisa beribadah dengan keamanan yang cukup di negeri kita ini. Ada juga orang yang terhambat pendidikan, karir, atau pekerjaannya karena memeluk agama tertentu. Jika kamu mengalaminya, sabarlah dalam menghadapi semua ini, toh kemerdekaan spiritual kita sesungguhnya tidak bisa dirampas.


TUHAN MEMBERKATI


Bersabarlah dalam setiap penderitaan yang engkau alami di dunia ini, karena jika engkau terus setia kepada-Nya, maka Dia akan menyatakan Kemuliaan-Nya dalam hidupmu. (Samuel Sadusi).


RENUNGAN HARIAN KRISTEN



Renungan Harian Kristen - RESIKO IMAN

Bacaan Alkitab : Markus 14:32-42

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh kedalam pencobaan; 
roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Markus 14:38)


Dietrich Bonhoeffer
Apakah mengikut Yesus itu hal yang mudah, ataukah perkara yang penuh resiko? Gampangkah, atau ada “harga” yang mesti dibayar oleh para pengikut-Nya? Dietrich Bonhoeffer adalah seorang pendeta dan teolog Jerman yang terkenal dan hidupnya telah menjadi teladan bagi orang percaya. Ia hidup semasa rezim Hitler di Jerman. Melalui Khotbah, surat-surat dan tulisan-tulisannya, ia menentang pemerintahan Hitler. Ia pernah dipenjara selama 3 tahun, namun itu tidak membuat sikap dan pendiriannya kepada Kristus berubah. Sampai akhirnya ia dihukum mati oleh rezim Hitler.

Petrus, Yakobus dan Yohanes, rupanya tidak sabar ketika diminta Yesus berjaga-jaga dan berdoa di malam itu. Tiga kali Yesus menemui mereka, tiga kali pula mereka kedapatan tertidur. Tampak jelas mereka bertiga tidak bisa melakukan perintah Yesus bahkan untuk sekadar berjaga-jaga dan berdoa. Mereka tidak bisa mengalahkan keinginan daging mereka, walau barangkali hati mereka ingin sekali melaksanakan perintah Yesus tersebut. Memang, mengikuti Yesus menbutuhkan kesabaran dan kesadaran akan resiko/konsekuensi yang akan dihadapi.

Saudaraku, ada banyak orang yang beranggapan bahwa begitu mengikuti Yesus, ia akan bebas dari resiko-resiko kehidupan ini. Ia tidak lagi bisa sakit, bisnisnya akan selalu sukses, karir pasti berkembang, dan keluarga otomatis akan jauh dari masalah. Tetapi sesungguhnya, mengikuti Yesus itu tidak mudah, memerlukan kesabaran, kesabaran untuk menghadapi resiko/konsekuensi iman tersebut.


TUHAN MEMBERKATI

Setiap tindakan dalam hidup akan selalu mempunyai resiko, baik maupun tidak baik. 
Tapi berbahagialah orang yang tetap bertahan dan setia, apapun resiko yang dihadapinya . (Samuel Sadusi)


RENUNGAN HARIAN KRISTEN

Renungan Harian Kristen - BERTAHAN

Bacaan Alkitab : Mikha 4:6-14

“Mereka yang pincang akan Kujadikan pangkal suatu keturunan,…” 
(Mikha 4:7a)


Nelson Mandela
Nelson Mandela pernah mengatakan: When injustice becomes law, resistance becomes duty. Ketika ketidakadilan menjadi hukum yang berkuasa, tetap bersabar dan bertahan di dalam semangat perjuangan menjadi suatu tugas. Kata-kata ini mencerminkan hidup Mandela sendiri. Ia tetap bersabar dan bertahan dalam perjuangannya melawan apartheid, walau untuk itu ia dihukum penjara selama 27 tahun. Namun ketika era-baru muncul di Afrika Selatan, ia muncul sebagai pemimpin negara tersebut.

Waktu itu, umat Israel menjadi bangsa yang kalah dan terbuang dimata bangsa-bangsa lain. Meskipun demikian,  situasi ini tidak berlangsung lama. Melalui Nabi Mikha, Tuhan memberkati umat-Nya  bahwa Ia akan membebaskan mereka dari penderitaan itu. Tetapi situasi tentu akan berbeda. Yang akan mengambil peranan dalam era beru sasudah pembuangan ini, bukan lagi “muka-muka lama” (orang lama), yakni para penguasa yang korup dan suka menindas, tetapi “muka-muka baru”, yakni mereka yang tetap bersabar dan bertahan mnyatakan kesetiaannya kepada Tuhan walau ditindas oleh penguasa korup tersebut. Mereka yang tertindas, yakni mereka yang pincang dan terpencar, yang akan dipilioh oleh Allah untuk memimpin era-baru pasca pembuangan.

Saudaraku, banyak orang Kristen gagal mempertahankan iman kepada Tuhan dalam perjalanan hidup mereka. Kegagalan terjadi ketika seseorang tidak lagi bisa bersabar dan bertahan mempercayakan hidupnya pada pemeliharaan Tuhan ketika berhadapan dengan krisis hidup yang dijumpai. Padahal sesungguhnya mereka yang bertahanlah yang akan menang, walau sebelumnya mungkin terlihat kalah.


TUHAN MEMBERKATI


Meskipun hidupmu dalam keadaan kesusahan dan penderitaan, tetaplah percaya dan mempertahankan imanmu, karena Tuhan selalu memelihara hidupmu. (Samuel Sadusi).




Sabtu, 25 Juni 2011

Renungan Harian Kristen - 3M : MALL - MEDIA - MORAL

Bacaan Alkitab : Titus 2:1-10

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka
menguasai diri dalam segala hal” (Titus 2:6)


Robby Chandra dalam bukunya yang berjudul “Menatap Benturan Budaya: Budaya Kota, Kawula Muda dan Media Modern”, mengingatkan agar kaum muda menguasai diri dari terpaan gelombang 3M : Mall, Media, dan buta Moral.

Mall telah mendorong kaum muda memiliki tingkat belanja yang tinggi terhadap barang-barang yang belum tentu dibutuhkannya. Media, sering membuat para pemirsanya tidak terbiasa menghayati secara kritis apa-apa yang disajikan. Media ini pula yang sering memberikan pesan-pesan Moral yang dangkal, sehingga antara yang benar dan salah, baik dan jahat, bertanggung-jawab dan tidak, cenderung dicampur-baurkan.

Titus, salah satu orang kepercayaan Paulus, mendapat tugas dari Paulus untuk mendampingi jemaat Kristen di Kreta. Khusus bagi kaum mudanya, Titus diingatkan supaya mereka diajarnya untuk mampu menguasai diri dalam banyak hal. Janganlah mereka dengan mudahnya menunjukkan gejolak emosional yang tidak terkendali. Penguasaan diri menjadi hal yang penting, justru karena masa muda adalah masa transisi, masa untuk mengenal dan membentuk diri sendiri, serta membangun hubungan yang akrab dengan orang lain.

Saudaraku, apakah kaum muda kita bisa diajak untuk menguasai diri terutama dalam hal-hal yang jelas menghancurkan kehidupan mereka? Penguasaan diri tidak bertentangan dengan ekspresi kebebasan kaum muda. Kebebasan yang sejati justru disokong oleh penguasaan diri. Kebebasan tanpa penguasaan diri, yang terjadi sesungguhnya adalah tirani kebebasan atas kehidupan kita.

TUHAN MEMBERKATI

Gejolak emosional yang tidak terkendali hanya akan merugikan diri sendiri
yang kelak mendatangkan penyesalan. (Samuel Sadusi) 


RENUNGAN HARIAN KRISTEN

Renungan Harian Kristen - ORANG-ORANG SISA

Bacaan Alkitab : Zefanya 3:9-20

“Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah,
dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, 
yakni sisa Israel itu….” (Zefanya 3:12-13a)


Saya suka dengan film A Few Good Men. Dalam film ini diceritakan tentang banyaknya petinggi militer Amerika yang korup, bermoral bobrok, dan selalu menjadikan anak buah mereka sebagai kambing hitam dalam kesalahan yang mereka perbuat. Meski demikian, masih ada sisa-sisa orang yang setia. Yang setia ini memegang integritas tinggi dalam pengabdian mereka di bidang kemiliteran. Mereka ini tidak ikut-ikutan dengan yang korup tersebut. Mereka inilah yang membuat keadilan dan kebenaran tetap bisa ditegakkan.

Firman Tuhan yang disampaikan kepada nabi Zefanya begitu mencekam. Tuhan mengancam memberikan hukuman bagi bangsa-bangsa lain dan juga umat Israel. Ancaman penghukuman ini disampaikan karena mereka telah mengabaikan nilai-nilai moral, keadilan, dan damai sejahtera Allah dalam hidup sehari-hari. Untunglah, masih terdapat sisa orang-orang yang memegang integritas iman dan kesetiaan mereka kepada Tuhan. Orang-orang sisa inilah yang memungkinkan ancaman penghukuman Allah menjadi keselamatan bagi semua orang. Mereka, walaupun sedikit, adalah orang-orang yang tidak hanyut dan larut dalam kebobrokan, tetapi justru setahap demi setahap memperbaiki kebobrokan tersebut.

Saudaraku, supaya hidup lebih indah, diperlukan orang-orang sisa semacam ini, yang dalam masyarakat yang korup tidak ikut-ikutan korup, melainkan dengan kesabaran, setahap demi setahap mereka memperbaiki system yang korup tersebut. Ketika banyak orang menggadaikan hati nurani dan prinsip demi kepentingan diri sendiri, ia malah bisa menunjukkan bahwa kesejahteraan hidup dapat dicapai tanpa harus menggadaikan hati nurani dan keyakinan.

TUHAN MEMBERKATI

Berbahagialah Anda yang tetap setia dalam jalur kehidupan yang benar,
yang tidak turut dalam emosi dan ambisi duniawi. (Samuel Sadusi)




Renungan Harian Kristen - MEMBALAS DENGAN KEBAIKAN

Bacaan Alkitab : Roma 12:9-21

“Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;
lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” (Roma 12:17)


Apakah yang akan Saudara lakukan apabila ada orang yang berbuat jahat, melukai Saudara, atau keluarga Saudara? Ketika seseorang mendapat perlakuan yang jahat dari sesamanya, pada umumnya bisa muncul dua sikap, yakni : pasif, menerima dan membiarkan begitu saja diperlakukan semacam itu, atau sebaliknya, bereaksi keras dengan membalas kejahatan itu dengan kejahatan pula.

Dalam pandangan Paulus, bersikap pasif saja ketika menerima perlakuan jahat dari orang lain merupakan tindakan yang tidak tepat, sebab sikap ini tidak akan menyadarkan si pelaku bahwa perbuatannya itu adalah suatu kejahatan. Sikap pasif ini juga tidak akan memulihkan harga diri si korban sendiri yang telah direndahkan dan dirusak. Tetapi juga sebaliknya, bereaksi keras dengan membalas kejahatan dengan kejahatan hanya akan memperbesar konflik dan semakin menjauhkan kedua pihak dari perdamaian. Rasul Paulus menyerukan pentingnya upaya melakukan apa yang baik bagi semua orang, baik bagi si pelaku kejahatan, terlebih lagi bagi si korban itu sendiri.

“Melakukan apa yang baik bagi semua orang”, mengandung arti bahwa hendaknya kita jangan menjadi pasif, yang membiarkan diri kita hanya menjadi “keset” yang bisa diinjak-injak; tetapi juga bahwa kita hendaknya tidak melakukan cara-cara yang dapat merendahkan martabat kita sendiri, yakni membalas dengan kejahatan yang sama. Ketika seorang pencuri sepeda motor tertangkap dan mati dikeroyok massa, yang rendah martabatnya bukan hanya si pencuri itu, tetapi juga orang-orang yang mengeroyoknya!

TUHAN MEMBERKATI

Seribu kebaikan akan dilupakan hanya karena satu kesalahan yang belum tentu salah. 
Tapi satu kejahatan tidak akan dilupakan walaupun dengan seribu kebaikan. (Samuel Sadusi).



Renungan Harian Kristen - STEPHANOS

Bacaan Alkitab : Wahyu 2:8-11

“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu
mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10c)


Sahabat RHK, tahukah Saudara bahwa hidup ini bagaikan sebuah pertandingan? Ketika kita bertanding, kita bisa kalah ataupun menang. Untuk mencapai kemenangan ada banyak hal yang mempengaruhi, misalnya : upaya pihak lain yang tidak ingin kita memenangkan pertandingan dan juga apakah kita sendiri bisa memberikan penampilan yang terbaik.

Penulis kitab Wahyu melihat jemaat Kristen Smirna adalah jemaat yang sedang bertanding. Kata mahkota, dalam bahasa Yunaninya adalah stephanos, yang secara harfiah berarti untaian bunga. Untaian bunga ini biasanya dikalungkan kepada atlet yang menjadi juara pada pertandingan-pertandingan dalam Olimpiade, yang sejak tahun 776 SM diadakan oleh bangsa Yunani. Jemaat Kristen Smirna sedang bertanding dengan para penguasa Romawi dan orang-orang Yahudi yang membenci, menekan, serta menganiaya mereka karena iman mereka. Tentu saja, ini adalah pertandingan iman. Bahkan jemaat Smirna menjadi symbol bagi jemaat-jemaat Kristen yang juga diperhadapkan pada tantangan, dan mereka harus menanggapi tantangan itu dengan membuktikan kesetiaan iman mereka.

Apakah Saudara bisa memenangkan pertandingan imanmu? Setiap orang Kristen bisa menghadapi tantangan berbeda satu dengan yang lainnya. Orang yang satu tantangannya bisa lebih berat, sedangkan orang yang lain bisa lebih ringan. Tetapi ada satu yang pasti, yakni bahwa mereka yang memenangkan pertandingan iman akan mendapatkan mahkota kehidupan.

TUHAN MEMBERKATI

Dengan iman yang kokoh, kita akan mampu melewati segala rintangan hidup dan akan menjadi pemenang yang akan menerima mahkota kehidupan. (Samuel Sadusi)





Renungan Harian Kristen - KEAJAIBAN KECIL

Bacaan Alkitab : Mazmur 70:1-6

“Tetapi aku ini sengsara dan miskin--ya Allah, segeralah datang! 
Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku; ya TUHAN, 
janganlah lambat datang!” (Mazmur 70-6).


Yitta Halberstam dalam bukunya Small Miracles berpendapat : “Ribuan tahun yang lalu, Tuhan berbicara kepada manusia melalui keajaiban-keajaiban luar biasa yang diperlihatkan-Nya dalam skala mahabesar. Pada masa kini, kita bergulat dengan Tuhan yang tersembunyi, yang tidak menampakkan diri, yang tidak lagi membelah lautan, tidak lagi menghentikan pergerakan matahari atau mengubah manusia menjadi tiang garam.

Sebagai gantinya, kita mengalami peristiwa-peristiwa “kebetulan”, keajaiban-keajaiban kecil, yang lebih pribadi dan lebih bersifat sehari-hari. Ketika suatu “kebetulan” itu terjadi, itu merupakan tanda bahwa Tuhan sedang menepuk pundak kita sambil berbisik, atau kadang malah berteriak, “Aku ada disini! Aku bersamamu!”.

Biasanya umat Israel mengharapkan Tuhan akan menolong mereka dengan perbuatan-perbuatan-Nya yang spektakuler, ajaib, dan bertentangan dengan hokum alam. Itu juga yang menjadi pergumulan sang Pemazmur ini. Dalam pengharapan Pemazmur, ketika umat sedang menghadapi persoalan hidup yang berat, Tuhan akan turun dari “singgasana”-Nya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat dengan cara-cara yang ajaib dan spektakuler. Dan kalau tidak mengalami hal-hal semacam itu, umat merasa Tuhan tidak menolong atau Tuhan lambat dalam menolong.

Saudaraku, Tuhan sebenarnya selalu menolong dan tidak pernah terlambat dalam menolong kita. Kalau kita merasa begitu, itu karena kita selalu mengharapkan pertolongan yang serba spektakuler. Padahal pertolongan itu bisa tampak dari hal-hal yang sederhana, yang biasa dan sehari-hari kita temui, asal saja kita cukup peka untuk mengenalinya.

TUHAN MEMBERKATI

Tanpa kita sadari, keajaiban dan mujizat-Nya selalu terjadi setiap hari
di dalam hidup kita. (Samuel Sadusi).


RENUNGAN HARIAN KRISTEN


Renungan Harian Kristen - KEBEBASAN

Bacaan Alkitab : Wahyu 3:14-22

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar 
suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan 
Aku makan bersama-sama dengan dia, 
dan ia bersama-sama dengan Aku.“ (Wahyu 3:20)


Apakah di rumah Saudara ada poster Yesus yang sedang mengetok pintu rumah? Apa yang Saudara rasakan jikalau melihat gambar itu? Apakah perasaan Saudara akan tetap sama jika seandainya yang Saudara lihat bukan poster Yesus yang sedang mengetok pintu rumah, melainkan Yesus yang sedang membawa bongkahan kayu besar untuk mendobrak rumah tersebut?

Memang ada perbedaan besar antara “mengetok” dan “mendobrak”. Yesus yang sedang mengetok pintu hati kita menunjukkan Yesus tidak mau memaksakan kehadiran-Nya di hati kita. Yesus mau tinggal di dalam hati kita, tetapi itupun tergantung apakah kita mau membukakan pintu hati kita untuk Yesus. Kalau pintu dibuka, Yesus masuk dan makan bersama-sama kita. Kalau pintu tidak dibuka, Yesus akan tetap mengetuk dengan lembut. Yesus tidak merampas kebebasan kita di dalam mengambil keputusan entah menerima atau menolak Dia. Sedangkan Yesus yang mendobrak pintu hati kita menunjukkan Yesus yang memaksakan kehadiran-Nya di hati kita. Jika demikian berarti Yesus merampas kebebasan kita, tidak menghargai keputusan yang kita buat. Padahal Yesus menginginkan kita memilih-Nya bukan karena kita takut kepada-Nya, melainkan karena kita cinta kepada-Nya.

Saudaraku, untunglah Yesus tidak mendobrak, melainkan mengetok, sehingga ketika kita memilih mengikut Yesus, itu karena memang betul-betul kita jatuh cinta, dan bukan karena takut kepada-Nya. Bukankah tidak pernah kita temui poster Yesus sedang mendobrak pintu rumah? Allah dengan penuh kesabaran mengundang kita, dengan penuh kebebasan cinta kita juga kita dating kepada-Nya.


TUHAN MEMBERKATI

Pergunakanlah kebebasan yang diberikan Tuhan kepada kita
untuk membuka hati yang selebar-lebarnya bagi Dia yang sedang mengetok
dan ingin masuk kedalam hidup kita. (Samuel Sadusi)


Jumat, 24 Juni 2011

Renungan Harian Kristen - JANGAN KUATIR

Bacaan Alkitab : Matius 6 : 25-34

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok…” (Matius 6:34a).


Siapakah yang tidak pernah merasa kuatir dalam hidupnya? Barangkali, pada waktu Anda membaca tulisan ini, Anda pun sedang dilanda kekuatiran terhadap sesuatu. Menurut kajian psikologi, ada beberapa jenis kekuatiran. Ada kekuatiran yang normal, yang sekali-kali muncul dan dirasakan, tetapi berlalu dengan cepat. Ada kekuatiran yang muncul karena penyakit. Tetapi ada juga jenis kekuatiran yang selalu muncul dan dirasakan, bersifat permanent, walaupun sebenarnya tidak ada hal-hal yang perlu dikuatirkan. Yang terakhir inilah jenis kekuatiran yang kronis, bahkan mungkin neurotis.

Kata “kuatir” dalam ucapan Tuhan Yesus : Janganlah kamu kuatir,  diterjemahkan dari bahasa Yunani “merimnate”. Istilah ini bukan untuk menggambarkan jenis kekuatiran yang normal, tetapi untuk kekuatiran yang neurotis. Berarti yang Yesus maksudkan adalah : Janganlah kamu membiarkan diri kamu dukuasai oleh kekuatiranmu, sehingga kamu terus menerus gelisah dan tidak mempunyai pengharapan. Seseorang bisa saja merasa kuatir, tetapi jangan membiarkan kekuatiran itu justru yang menguasai dirinya. Seseorang yang memiliki kekuatiran yang neurotis terhadap masa depan, secara tidak langsung meragukan karya pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya.

Masa depan yang misterius memang bisa membuat seseorang merasa kuatir. Tetapi sebenarnya kita bisa menghadapi masa depan itu tidak dengan hati dan pikiran tegang. Untuk menyongsong masa depan itu kita tetap bisa bersabar dan berpikiran bahwa saya akan berusaha, saya akan berusaha agar hidup saya lebih baik dari tahun kemarin, tetapi saya tidak akan kuatir secara berlebih-lebihan, sebab saya yakin akan pemeliharaan Tuhan dalam hidup saya.


TUHAN MEMBERKATI

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan
sehasta saja pada jalan hidupnya? (Matius 6:27)

Renungan Harian Kristen - ALFA DAN OMEGA

Bacaan Alkitab : Wahyu 1:4-8

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada 
dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8a).


Apakah Saudara termasuk orang yang suka mencari “jalan tikus” atau jalan pintas ketika menghadapi kemacetan lalu lintas?  Beberapa kali saya lewat jalan pintas, saya bisa terhindar dari kemacetan. Tetapi lebih sering malah saya terjebak kemacetan lain di jalan pintas tersebut.

Pada masa kitab Wahyu ini ditulis (tahun 96 M), orang-orang Kristen sedang diperhadapkan pada tekanan untuk menyembah kaisar Romawi. Kaisar menyatakan diri sebagai yang awal dan yang akhir, sebagai yang maha kuasa. Dengan kata lain, kaisar menuntut agar ia disapa sebagai Tuhan dan dewa. Yang menolak akan dihukum mati. Kitab Wahyu ini memberikan dorongan iman bagi orang-orang Kristen waktu itu bahwa bukan kaisar yang patut dipuja dan disembah, tetapi Allah. Allah-lah Alfa dan Omega, yang awal dan yang akhir, bukan kaisar.

Orang Kristen yang meyakini bahwa Allah yang ia sembah adalah Alfa dan Omega mestinya tidak gentar terhadap tantangan-tantangan hidup ini. Yang seringkali terjadi di kalangan orang Kristen adalah pada waktu mereka ditanya, apakah mereka yakin bahwa Allah yang berkuasa memelihara hidupnya? Mereka dengan sigap menjawab : Ya, saya yakin ! Tetapi begitu terbentur pada berbagai persoalan hidup, mereka kehilangan kesabaran dan mencari jalan pintas, “jalan tikus”, walau mereka tahu bahwa jalan pintas itu tidak diperkenankan Allah. Coba kita perhatikan, “Apakah jalan pintas yang biasa kita ambil dalam hidup ini mendorong kita tetap setia pada Tuhan, ataukah justru meninggalkan-Nya ?

TUHAN MEMBERKATI

Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. (Amsal 14:12)





Renungan Harian Kristen - TUHAN TIDAK BERUBAH ???

Bacaan Alkitab : Yunus 3:1-10

“…maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya
terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.” (Yunus 3:10b).


Di dunia ini, semua berubah. Hanya satu yang tidak berubah, yakni Tuhan. Demikianlah kata-kata yang sering saya dengar. Ada seorang Bapak gerejawi yang bernama Thomas Aquinas, yang hidup pada tahun 1225-1274, meyakini bahwa salah satu sifat yang dimiliki oleh Tuhan adalah immutabilis, yang berarti Tuhan tidak berubah. Sifat ini sangat erat kaitannya dengan sifat kemaha-tahuan Tuhan. Allah yang Mahatahu, pastilah tidak akan berubah, sebab berubah selalu mengandaikan ketidak-tahuan.

Yunus menyerukan berita penghukuman kepada Niniwe. Empat puluh hari lagi kota Niniwe akan ditunggang-balikkan oleh Allah. Yunus tampaknya sangat yakin, rencana Allah untuk menghukum kota Niniwe pasti tidak akan berubah. Tetapi ternyata Allah malah mengubah rencana-Nya. Allah mengubah rencana-Nya ketika melihat raja dan rakyat Niniwe bertobat dari tingkah-laku yang jahat dan dari kekerasan hati mereka. Bahkan timbul penyesalan Allah atas rencana penghukuman Niniwe yang disampaikan sebelumnya.

Saya punya keyakinan bahwa Allah bisa berubah. Allah adalah sosok yang responsive terhadap dinamika umat-Nya. Di satu sisi, ini adalah anugerah bagi umat manusia, karena tidak ada kata terlambat untuk berbalik dari hidup yang lama, kembali ke dalam jalan Tuhan. Di sisi lain, kita bisa melihat Allah sesungguhnya lebih senang mencintai umat-Nya daripada menghukumnya. Allah bias berubah, penduduk Niniwe bisa berubah. Kesabaran Allah yang sesungguhnya memungkinkan Dia untuk berubah. Namun untuk setiap ketetapan-Nya, perintah-Nya, hukum-Nya,  karakter-Nya, dan semua janji-Nya untuk kebaikan kita, Dia tidak akan pernah berubah seperti yang tertulis dalam Maleakhi 3:6 –“Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.”


Keputusan Allah dapat berubah dalam hal kebaikan dan akan memberikan 
pengampunan kepada kita, hanya jika kita bertobat dan kembali 
ke jalan-Nya. (Samuel Sadusi)


Renungan Harian Kristen - THEISTIST

Bacaan Alkitab : Mazmur 44:18-27

“Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah!...”
(Mazmur 44:24a)



Orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada biasa disebut sebagai A-theist. Orang yang percaya bahwa Tuhan ada, tapi sudah mati, disebut sebagai Nietzcheian. Sedangkan orang yang percaya bahwa Tuhan memang ada dan menciptakan bumi dan seisinya, tetapi sekarang sudah tidak peduli lagi terhadap ciptaan-Nya, disebut sebgai Deistist. 

Pemazmur pastilah bukan seorang  Nietzcheian, Deistist, apalagi Atheist. Ia adalah seorang Theistist, karena percaya bahwa Tuhan ada dan berkarya dalam hidup ini. Meskipun demikian, Pemazmur tetap juga bergumul dalam kepercayaannya terhadap Tuhan. Seringkali di dalam penderitaan dan krisis kehidupan, penyertaan Tuhan tidak dirasakan. Apakah di saat-saat seperti itu Tuhan sedang tidur?

Yang menarik adalah meskipun Pemazmur terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, namun ia tidak mau melepaskan imannya kepada Tuhan (ayat 18). Ia tetap yakin, Tuhan pastilah berkarya bagi umat-Nya, walau mungkin tidak pada saat itu.

Apakah Tuhan sedang tidur? Barangkali Saudara juga bergumul dengan pergumulan semacam ini. Sekarang ini, mungkin Saudara membutuhkan pertolongan Tuhan dalam menghadapi persoalan hidupmu, tetapi Saudara justru merasakan pertolongan itu seakan-akan tak kunjung datang. Bersikaplah seperti sang Pemazmur. Walau pertolongan Tuhan belum ia rasakan sekarang ini, ia tidak mau melepaskan imannya kepada Tuhan, karena ia yakin, pada saatnya nanti, Tuhan akan memberikan pertolongan kepadanya. Kita memang harus belajar sabar memahami saatnya Tuhan!

TUHAN MEMBERKATI

Apapun masalah yang engkau hadapi, jangan pernah tinggalkan Tuhan, walaupun
seolah-olah doamu tidak didengarkan. Tapi Dia tidak pernah tidur dan selalu mendengarkan doamu, hanya saja kita harus lebih bersabar. (Samuel Sadusi)

Renungan Harian Kristen - DALAM NAMA YESUS

Bacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 4:5-12

“…bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu,…” 
(Kisah 4:10b).


Seorang pemuda menerima SMS yang isinya berbunyi : Aku mau kamu ajak nonton, dan kemudian diikuti nama si pengirim, yakni seorang gadis yang selama ini mencuri hatinya. Bagi pemuda tersebut, nama yang tertera di SMS yang ia terima itu, tidak lagi sekedar deretan huruf-huruf, tetapi telah menjadi semacam kekuatan yang bisa mempengaruhi suasana hatinya.

Orang Yahudi biasa memperlakukan nama sebagai sesuatu yang penting. Nama-nama Yahudi selalu mempunyai arti. Nama Yesus, misalnya, berasal dari bahasa Ibrani : Yeshua, yang berarti : Allah menyelamatkan. Nama, selalu mengandung pesan, pengharapan, dan kuasa dari pemilik atau pemberi nama. Oleh sebab itu, tidak mengherankan ketika Petrus dan Yohanes dibawa ke persidangan Mahkamah Agama Yahudi, kepada mereka ditanyakan, dengan kuasa atau nama siapakah mereka mengajar orang banyak dan menyembuhkan orang sakit. Petrus dan Yohanes menjawab : Dalam Nama Yesus Kristus, orang Nazaret.

Orang Kristen telah terbiasa mengucapkan kata-kata : Dalam Nama Yesus. Bahkan ada yang memperlakukan kata-kata ini bagaikan mantera, agar keinginannya terkabul. Kata-kata : Dalam Nama yesus, tentu saja dalam dirinya sendiri tidak memiliki kekuatan magis. Ketika kita mengucapkan kata-kata ini, sebenarnya kita sedang meneguhkan kembali keterkaitan kita dengan Yesus, Sang Juruselamat kita itu, dan bukannya mencari kekuatan magis dari kata-kata tersebut. Ketika kita menyadari keterkaitan inilah, maka hati kita pun akan diubahkan, dan kita punya keberanian untuk setia kepada Yesus dalam berbagai pengalaman hidup kita.

TUHAN MEMBERKATI


Dalam Nama Yesus ada Kuasa, tapi jangan pergunakan Nama Yesus
untuk memaksakan kehendakmu. (Samuel Sadusi).




Renungan Harian Kristen - KEBAIKAN HATI

Bacaan Alkitab : Filipi 4:4-7

Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!
(Filipi 4:5).


Siapa yang tidak mengenal Bill Gates? Pada tahun 2005, ia dan isterinya, Melinda, memberikan lebih dari 6 milyar dollar Amerika untuk membantu meningkatkan kesehatan global. Ketika Boll Gates dan isterinya ditanya oleh wartawan majalah Time : Mengapa Anda memutuskan memberikan kembali begitu banyak keuntungan bisnis Anda kepada dunia? Mereka menjawab : Sangat jelas bagi kami bahwa kami tidak pernah berpikir untuk memberikan keuntungan ini bagi anak-anak kami sendiri. Ketika kami mulai melihat adanya ketidakadilan yang besar di dunia ini, kami yakin kami dapat membantu kehidupan manusia melalui peningkatan kesehatan. (Majalah Time, 7 November 2005). Tentu saja, apa yang telah dilakukan oleh Bill Gates adalah satu contoh dari kebaikan hati.

Rasul Paulus menyerukan kepada jemaat di Filipi agar kebaikan hati mereka diketahui oleh semua orang. Orang Kristen mestilah seorang yang tidak tidak bosan menaburkan kebaikan hatinya pada orang lain dan kebaikan itu mesti diketahui oleh semua orang. Apakah Paulus menyuruh jemaat untuk memamerkan kebaikan mereka? Tidak! Apa yang dimaksud Paulus adalah kebaikan yang diketahui orang lain, diharapkan bisa memberikan inspirasi dan dorongan bagi orang lain tersebut untuk menabur kebaikan yang sama.

Apakah selama ini masih ada hari yang terlewatkan dalam hidup kita, tanpa perbuatan baik bagi orang lain? Luangkan waktu pada hari ini : berbuatlah baik pada orang lain! Winston Churchill, pernah berkata : Kita menciptakan  kehidupan dengan apa yang kita berikan (We make a life by what we give).

TUHAN MEMBERKATI
Setiap perbuatan baik yang kita lakukan akan membawa sukacita bagi orang lain, 
walaupun terkadang perbuatan baik itu seolah-olah tidak diterima. (Samuel Sadusi).