Senin, 11 Februari 2019

IMAN vs LOGIKA

 

Banyak sekali tulisan tentang pengertian iman yang saya dengar dan baca di dunia maya.
Ada yang mengatakan bahwa iman harus sejalan dengan logika/akal/nalar, dan mereka beranggapan bahwa itu merupakan satu kesatuan fungi.

Ada juga yang mengatakan bahwa :
1. Tanpa akal, tidak akan ada keyakinan spiritual.
2. Tanpa logika, tidak akan ada dogma/agama.
3. Tanpa nalar, tidak akan ada iman.
4. Tanpa pikiran, tidak akan ada Tuhan.


Sepintas kita akan setuju dengan pernyataan di atas, khususnya poin 3 dan 4.
Tapi perlu kita ketahui bahwa logika itu terbatas adanya. Memang "ada kalanya" iman harus sejalan dengan logika, tapi tidak selamanya harus seperti itu. Iman dan logika bukan satu kesatuan, iman harus diatas logika.

Orang yang sedang sakit, dirawat di rumah sakit dan di vonis oleh dokter bahwa umurnya tidak akan panjang lagi. Statemen tersebut adalah berdasarkan logika dan analisa secara ilmu pengetahuan (ilmu kedokteran), tapi ketika orang yang menderita sakit tersebut membuang semua pendapat dokter tersebut, dan dia mempunyai iman bahwa dia akan sembuh, maka tidak menutup kemungkinan dia bisa sembuh, karena iman tidak terbatas.

Atau katakanlah orang yang menderita sakit tersebut sudah dalam keadaan koma, lalu orang lain (keluarga, sahabat, pendeta) punya iman dan berdoa untuk kesembuhan orang tersebut, dan kesembuhan bisa terjadi. Artinya bahwa iman berada diatas logika.

Coba kita lihat poin nomor 3 diatas yang mengatakan bahwa : "Tanpa Nalar, Tidak Akan Ada Iman",  statemen ini secara tidak langsung mengatakan bahwa Nalar/Logika berada di atas Iman.
Seperti yang sudah saya katakan diatas bahwa Iman itu tidak terbatas.
Bagaimana mungkin "yang terbatas" berada diatas "yang tak terbatas?
 
Akal/Pikiran/Logika adalah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan ketika menciptakan manusia, dan sampai selama-lamanya itu melekat pada manusia.

Artinya bahwa semua manusia punya Akal/Pikiran/Nalar, tapi belum tentu memiliki iman.
Logika perlu dipelajari, yang mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan, dan semua harus masuk akal.
 
Lain halnya dengan IMAN, yang bertindak adalah Sang Pencipta yang melampaui segala akal dan pikiran manusia, dan hasilnya tidak masuk akal manusia.

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. 

Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (bahasa Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. 

Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa diartikan dengan masuk akal.

Selanjutnya kita lihat poin ke 4 yang mengatakan bahwa "Tanpa Pikiran, Tidak Akan Ada Tuhan". Bagi saya ini sangat lucu. Kenapa? Pencipta manusia itu adalah Tuhan, akal dan pikiran juga diberikan oleh Tuhan.

Kalau yang dimaksud adalah bahwa manusia tidak bisa paham dan mengerti keberadaan Tuhan tanpa berpikir dengan akal dan logika, jawabannya saya adalah sebelum manusia diciptakan, Tuhan sudah ada. Dan manusia tidak perlu berpikir dengan akal/logika tentang keberadaan Tuhan, cukup percaya dengan IMAN bahwa Tuhan itu ada.
 
Semakin jelas bukan perbedaan antara IMAN dan LOGIKA?

Sekarang kita lihat apa kata Alkitab tentang IMAN.
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1).

Kita berharap "sesuatu" terjadi dan "sesuatu" itu kita yakini sudah kita terima dengan "suatu bukti" yang tidak kita lihat. Sangat tidak masuk akal bukan? Itulah Iman.

Dalam Filipi 4:7 dikatakan : Damai sejahtera Allah, yang MELAMPAUI SEGALA AKAL, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
 
Kuasa Allah itu melampaui segala akal dan pikiran manusia. Bagaimana mungkin "Tanpa Pikiran, Tuhan Tidak Ada?"

Hasil dari IMAN adalah MUJIZAT, dan Mujizat adalah perkara diluar kebiasaan dan diluar akal manusia, dan mujizat dilakukan oleh Allah.

Salam.

By : Samuel SaDuSi