Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kristen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 April 2014

AMARAH AKAN MEMBAWA PENYESALAN

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini adalah seorang perempuan cantik berusia 3 tahun. Setiap hari ia bermain sendirian di rumah karena kerap kali dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja di dapur. Dia bermain dengan apa saja yang ada di rumahnya, ayun-ayunan yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya pergi naik motor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembanturumah.

Sore harinya kedua orangtuanya pulang, dan sangat terkejut melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Mukanya merah padam ketakutan, apalagi melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan, "Saya tidak tahu, tuan."

"Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yang kamu lakukan?", hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yang membuat gambar itu ayahhh, cantik kan!", katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan.

Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu haruus berbuat apa.

Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu..
Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!", jawab bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya.

Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.

"Dita demam, Bu", jawab pembantunya ringkas.

"Kasih minum panadol aja", jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas.

"Sore nanti kita bawa ke klinik", kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan", kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut...

"Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah", kata dokter itu.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata, tangan mereka bergetar menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.

Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi. Dita sayang ayah.. sayang ibu", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

"Dita juga sayang Mbok Narti", katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah, kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti? Bagaimana Dita mau bermain nanti? Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi", katanya berulang-ulang. 
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Dia meraung-raung sekuat hati, namun semuanya sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat sang ayah tidak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi. Namun si anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Renungan :
KEMARAHAN terjadi karena NAFSU, dan PENYESALAN yang akan terjadi jika kita menurutinya. Itu sebabnya, janganlah sekali-kali mengambil keputusan dalam keadaan MARAH. Dan biasakan kita untuk MEMAAFKAN orang lain dalam segala hal, baik dalam hubungan suami istri, pekerjaan, pemerintahan, politik dan sebagainya.

Janganlah terlalu MENCINTAI HARTA secara berlebihan, hal ini akan MEMBUTAKAN HATI.

"JADIKANLAH HARTA ITU DI DALAM GENGGAMAN TANGANMU, 
BUKAN DI DALAM HATIMU!"

Selasa, 24 Desember 2013

Pria dan Burung-burung

Suatu hari ada seorang pria yang menganggap Natal hanya sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sungguh-sungguh tidak percaya. 
 
"Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja. "Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya "

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka. "Saya tidak mau menjadi orang yang munafik," jawabnya. "Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang."

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang sampai tiga kali. Ia berpikir ada seseorang yang sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Kemudian ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Burung-burung itu telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat buat burung-burung ini. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu. "Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman." 
 
Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang saya mengerti," bisiknya dengan terisak. "Sekarang saya mengerti mengapa TUHAN mau menjadi manusia."

Kamis, 17 Oktober 2013

THIS TOO WILL PASS


Seorang raja meminta tukang emasnya yang sudah tua renta untuk menuliskan sesuatu di dalam cincinnya. Raja berpesan, "Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu, supaya itupun bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya".

Berbulan-bulan si tukang emas yang tua itu membuat cincinnya, tetapi lebih sulit menuliskan apa yang penting di cincin emas yang kecil itu. Akhirnya setelah berdoa dan berpuasa, si tukang emas itupun menyerahkan cincin itu pada sang raja.

Dan dengan tersenyum, sang raja membaca tulisan kecil di cincin itu. 
Bunyinya : "THIS TOO WILL PASS" (YANG INIPUN AKAN BERLALU).

Awalnya sang raja tidak terlalu paham dengan apa yang tertulis di sana. Tapi, suatu saat, ketika menghadapi persoalan kerajaan yang pelik, akhirnya ia membaca tulisan di cincin itu dan ia pun menjadi lebih tenang, “Dan inipun akan berlalu.”

Dan ketika ia sedang bersenang-senang, ia pun tidak sengaja membaca tulisan di cincin itu, lantas ia pun menjadi rendah hati kembali.

Ketika Anda sedang dalam masalah besar ataupun sedang dalam kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat ini : "Dan inipun akan berlalu."

Kalimat ini, kalau direnungkan dengan bijak akan mengantarkan diri kita pada keseimbangan hidup. Tidak ada satupun yang langgeng dan abadi.

Jadi, ketika Anda punya masalah, tidak perlu terlalu bersedih. Yakinlah bahwa semua itu pasti akan berlalu. 


Demikian juga sebaliknya, ketika Anda dalam keadaan senang, mempunyai pekerjaan yang baik, materi yang berkecukupan, pendidikan yang tinggi, dan semua yang anda miliki, nikmatilah selagi anda bisa senang dan selagi anda diberikan kesempatan untuk menikmati semuanya. Tentu dengan tetap menjaga keseimbangan dan mengingat bahwa semua harta, pekerjaan, dan kesenangan itupun akan berlalu.

Ingatlah....!!! 
Apapun yang anda hadapi saat ini, semuanya akan berlalu.
Apapun yang anda miliki saat ini, semuanya akan berlalu.

Janganlah menunggu tua baru bertobat. Karena kematian menjemput tidak mengenal waktu!!
Janganlah menunggu kaya baru memberi. Tapi memberilah maka kamu semakin kaya.


"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan". (Amsal 11:24). 


Cerpen Kristen - Hadiah Natal Terindah

Nasib Egar tidak sebaik hatinya. Dengan pendidikannya yang rendah, pria berumur sekitar 30 tahun itu hanya seorang pekerja bangunan yang miskin.

Dan bagi seseorang yang hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari, Natal tidak banyak berbeda dengan hari-hari lainnya, karenanya apa yang terjadi pada suatu malam natal itu tidak banyak yang diingatnya.

Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yang berlimpah. Tapi di kantong Egar hanya terdapat $10, jumlah yang pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis ke Baldwin, dimana dia mungkin mendapatkan pekerjaan untuk ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.

Maka menjelang malam, ketika lonceng dan lagu-lagu natal terdengar dimana-mana, senyum dan salam natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yang akan membawanya ke Baldwin.

Salju turun deras. Suhu jatuh pada tingkat yang menyakitkan dan perut Egar mulai berbunyi karena lapar. Ia melihat jam di stasiun, dan memutuskan untuk membeli hamburger dan kentang goreng ukuran ekstra, karena ia butuh banyak energi untuk memindahkan salju sepanjang malam nanti.

‘Lagipula,’ pikirnya, ’sekarang adalah malam natal, setiap orang, bahkan orang seperti saya sekalipun, harus makan sedikit lebih special dari biasanya.’

Di tengah jalan ia melewati sebuah bangunan raksasa, dimana sebuah pesta mewah sedang berlangsung. Ia mengintip ke dalam jendela. Ternyata itu adalah pesta kanak-kanak. Ratusan murid taman kanak-kanak dengan baju berwarna-warni bermain-main dengan begitu riang. Orangtua mereka saling mengobrol satu sama lain, tertawa keras dan saling olok. Sebuah pohon terang raksasa terletak di tengah-tengah ruangan, kerlap-kerlip lampunya memancar keluar jendela dan mencapai puluhan mobil-mobil mewah di pekarangan. Di bawah pohon terang terletak ratusan hadiah-hadiah natal dalam bungkus berwarna-warni. Di atas beberapa meja raksasa tersusun puluhan piring2 yg berisi bermacam-macam makanan dan minuman, menyebabkan perut Egar berbunyi semakin keras.

Dan ia mendengar bunyi perut kosong di sebelahnya. Ia menoleh, dan melihat seorang gadis kecil, berjaket tipis, dan melihat ke dalam ruangan dengan penuh perhatian. Umurnya sekitar 10 tahun. Ia tampak kotor dan tangannya gemetar.

Egar bertanya dengan pandangan tidak percaya, udara begitu dingin. "Dimana orangtuamu?"

Gadis itu tidak bicara apa-apa. Ia hanya melirik Egar sesaat, kemudian memperhatikan kembali anak-anak kecil di dalam ruangan, yang kini bertepuk tangan dengan riuh karena Sinterklas masuk ke dalam ruangan.

"Sayang kau tidak bisa di dalam sana", Egar menarik napas. Ia merasa begitu kasihan pada gadis itu.

Keduanya kembali memperhatikan pesta dengan diam-diam. Sinterklas sekarang membagi-bagikan hadiah pada anak-anak, dan mereka meloncat ke sana-sini, memamerkan hadiah-hadiah kepada orangtua mereka yang terus tertawa.

Mata gadis itu bersinar. Jelas ia membayangkan memegang salah satu hadiah itu, dan imajinasi itu cukup menimbulkan secercah sinar di matanya. Pada saat yang bersamaan, Egar bisa mendengar bunyi perutnya lagi.

Egar tidak bisa lagi menahan hatinya. Ia memegang tangan gadis itu dan berkata, "Mari, akan saya belikan sebuah hadiah untukmu".

"Sungguh ?", gadis itu bertanya dengan nada tidak percaya.

"Ya. Tapi kita akan mengisi perut dulu."

Ia membawa gadis itu diatas bahunya dan berjalan ke sebuah depot kecil. Tanpa berpikir tentang tiket bisnya ia membeli 2 buah roti sandwich, 2 bungkus kentang goreng dan 2 gelas susu coklat. Sambil makan ia mencari tahu tentang gadis itu.

Namanya Ellis dan ia baru kembali dari sebuah toko minuman dimana ibunya bekerja paruh waktu sebagai kasir. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah anak yatim St. Carolus, sebuah sekolah kecil yg dibiayai pemerintah untuk anak2 miskin. Ibunya baru memberinya sepotong roti tawar untuk makan malamnya. Egar menyuruh gadis itu untuk menyimpan rotinya untuk besok.

Sementara mereka bercakap-cakap, Egar terus berpikir tentang hadiah apa yang bisa didapatnya untuk Ellis. Ia kini hanya punya sekitar $5 dikantongnya. Ia mengenal sopir bis, dan ia yakin sopir itu akan setuju bila ia membayar bisnya kali berikutnya. Tapi tidak banyak toko yang buka disaat ini, dan yang bukapun umumnya menaikkan harga-harga mereka. Ia amat ragu-ragu apakah ia bisa membeli sesuatu seharga $5.

Apapun yang terjadi, katanya pada dirinya sendiri, saya akan memberi gadis ini hadiah, walaupun itu kalung saya sendiri.

Kalung yg melingkari lehernya adalah milik terakhirnya yg paling berharga. Kalung itu adalah 24 karat murni, sepanjang kurang lebih 30 cm, seharga ratusan dollar. Ibunya memberinya kalung itu beberapa saat sebelum kematiannya.

Mereka mengunjungi beberapa toko tapi tak satupun yg punya sesuatu seharga $5. Tepat ketika mereka mulai putus asa, mereka melihat sebuah toko kecil yang agak gelap di ujung jalan, dengan tanda ‘BUKA’ di atas pintu.

Bergegas mereka masuk ke dalam. Pemilik toko tersenyum melihat kedatangan mereka, dan dengan ramah mempersilakan mereka melihat-lihat, tanpa peduli akan baju-baju mereka yang lusuh.

Mereka mulai melihat barang-barang di balik kaca dan mencari-cari sesuatu yang mereka sendiri belum tahu. Mata Ellis bersinar melihat deretan boneka beruang, deretan kotak pensil, dan semua barang-barang kecil yang tidak pernah dimilikinya.

Dan di rak paling ujung, hampir tertutup oleh buku cerita, mereka melihat seuntai kalung. Kening Egar berkerut.

Apakah itu kebetulan, atau natal selalu menghadirkan keajaiban, kalung bersinar itu tampak begitu persis sama dengan kalung Egar.

Dengan suara takut-takut, Egar meminta melihat kalung itu. Pemilik toko, seorang pria tua dengan cahaya terang di matanya dan jenggot yg lebih memutih, mengeluarkan kalung itu dengan tersenyum.

Tangan Egar gemetar ketika ia melepaskan kalungnya sendiri untuk dibandingkan pada kalung itu.

‘Yesus Kristus,’ Egar menggumam,’begitu sama dan serupa.’

Kedua kalung itu sama panjangnya, sama mode rantainya, dan sama bentuk salib yg tertera diatas bandulnya. Bahkan beratnyapun hampir sama. Hanya kalung kedua itu jelas kalung imitasi. Dibalik bandulnya tercetak: ‘Imitasi : Tembaga’.

‘Samakah mereka?’ Ellis bertanya dengan nada kekanak2an. Baginya kalung itu begitu indah sehingga ia tidak berani menyentuhnya. Sesungguhnya itu akan menjadi hadiah natal yg paling sempurna, kalau saja……kalau saja…….

“Berapa harganya, Pak ?” tanya Egar dengan suara serak karena lidahnya kering.

“Sepuluh dollar.” kata pemilik toko.

Hilang sudah harapan mereka. Perlahan ia mengembalikan kalung itu. Pemilik toko melihat kedua orang itu berganti2, dan ia melihat Ellis yang tidak pernah melepaskan matanya dari kalung itu. Senyumnya timbul, dan ia bertanya lembut “Berapa yang anda punya, Pak ?”

Egar menggelengkan kepalanya “Bahkan tidak sampai $5.”

Senyum pemilik toko semakin mengembang “Kalung itu milik kalian dengan harga $4.”

Baik Egar maupun Ellis memandang orang tua itu dengan pandangan tidak percaya.

“Bukankah sekarang hari Natal ?” Orang tua itu tersenyum lagi, “Bahkan bila kalian berkenan, saya bisa mencetak pesan apapun dibalik bandul itu. Banyak pembeli saya yg ingin begitu. Tentu saja untuk kalian juga gratis.”

“Benar-benar semangat natal”, pikir Egar dalam hati.

Selama 5 menit orang tua itu mencetak pesan berikut dibalik bandul : “Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas”

Ketika semuanya beres, Egar merasa bahwa ia memegang hadiah natal yg paling sempurna seumur hidupnya.

Dengan tersenyum Egar menyerahkan $4 pada orang tua itu dan mengalungkan kalung itu ke leher Ellis. Ellis hampir menangis karena bahagia.

“Terima kasih. Tuhan memberkati anda, Pak. Selamat Natal.” kata Egar kepada orang tua itu.

“Selamat natal teman2ku.” Jawab pemilik toko, senantiasa tersenyum.

Mereka berdua keluar dari toko dengan bahagia. Salju turun lebih deras tapi mereka merasakan kehangatan didalam tubuh. Bintang2 mulai muncul di langit, dan sinar2 mereka membuat salju di jalan raya kebiru2an. Egar memondong gadis itu di atas bahunya dan meloncat dari satu langkah ke langkah yg lain.

Ia belum pernah merasa begitu puas dalam hidupnya. Melihat tawa riang gadis itu, ia merasa telah mendapat hadiah natal yg paling memuaskan untuk dirinya sendiri. Ellis, dengan perut kenyang dan hadiah yg berharga di lehernya, merasakan kegembiraan natal yg pertama dalam hidupnya.

Mereka bermain dan tertawa selama setengah jam, sebelum Egar melihat jam di atas gereja dan memutuskan bahwa ia harus pergi ke stasiun bis. Karena itu ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya.

“Sekarang pulanglah, Ellis. Hati2 dijalan. Tuhan memberkatimu selalu.”

“Kemana anda pergi, Pak ?” tanya Ellis pada orang asing yg baik hati itu.

“Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolahlah yg rajin. Selamat natal, sayang.”

Ia mencium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis mengucapkan terima kasih dengan suaranya yg kecil, tersenyum dan berlari2 kecil ke asramanya.

Kebahagiaan yg amat sangat membuat gadis kecil itu lupa menanyakan nama teman barunya.

Egar merasa begitu hangat didalam hatinya. Ia tertawa puas, dan berjalan menuju ke stasiun bis.

Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya kesempatan untuk bicara apapun, ia menunjuk salah satu bangku yg masih kosong.

“Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun. Sekarang malam natal.”

Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar salam natal ia duduk di kursi kesukaannya.

Bis bergerak, dan Egar membelai kalung yg ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu di lehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat.

Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya. Keningnya berkerut ketika ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yg baru diukir dibalik bandulnya : “Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas”

Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk Ellis……

***

Selama 12 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar dengan amat keras. Dalam usahanya mencari pekerjaan yg lebih baik, ia harus terus menerus berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Akhirnya ia bekerja sebagai pekerja bangunan di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya.

Dan ia masih belum bisa menemukan pekerjaan yg cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan kecil atau kentang goreng.

Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari & hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya mencapai 45 tahun, ia sudah tampak begitu tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke rumah sakit karena pingsan kecapaian.

Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar. Tanpa uang sepeserpun di kantong dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di rumah sakit milik pemerintah.

Malam natal itu, ketika setiap orang di dunia menyanyikan lagu2 natal, denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar.

Direktur rumah sakit itu, yg menyempatkan diri menyalami pasien2nya, sedang bersiap2 untuk kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang terbuka sedikit.

Ia memeriksa buku di tangannya & mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan menyalakan lampu. Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yg tergeletak diatas ranjang, disebelah sapu2 & kain lap. Tapi perhatiannya tersedot pada sesuatu yg bersinar suram di dadanya, yg memantulkan sinar lampu yg menerobos masuk lewat pintu yg terbuka.

Dia mendekat dan mulai melihat benda yg bersinar itu, yaitu bandul kalung yg sudah kehitam2an karena kualitas logam yg tidak baik. Tapi sesuatu pada kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati2 ia memeriksa bandul itu dan membaca kalimat yg tercetak dibaliknya.

“Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas”

Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yg paling diharapkan untuk bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yg membuat masa kanak2nya begitu tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yg membuatnya percaya bahwa sesungguhnya Sinterklas memang ada di dunia ini.

Dia memeriksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yg terlatih memberitahu harapan masih ada. Ia memanggil kamar darurat, dan bergerak cepat ke kantornya. Malam natal yg sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan mendadak dan bunyi detak langkah2 kaki puluhan perawat & dokter jaga.

“Jangan kuatir, Pak…. Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan Ellis akan mengurus Sinterklasnya yang tersayang.”

Dia menyentuh kalung di lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan terasa hangat walaupun salju mulai menderas diluar.

Ia merasa begitu kuat, perasaan yg didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak harus bertanya-tanya lagi karena ia baru saja menemukan orang yg memberinya hadiah natal yg paling sempurna sepanjang segala jaman.



Rabu, 12 Desember 2012

Renungan Harian Kristen - DIMURNIKAN SEPERTI PERAK

Bacaan Alkitab : Maleakhi 3:3
"Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak."
(Maleakhi 3:3a)
Ayat ini sangat mengusik beberapa jemaat yang sedang mengadakan Penelaahan Alkitab, dan mereka bertanya-tanya apa maksud Firman Tuhan ini mengenai KARAKTER dan SIFAT Allah.

Salah seorang anggota jemaat itu akhirnya menawarkan diri untuk mencari tahu PROSES PEMURNIAN PERAK, dan akan menjelaskannya pada pertemuan Penelaahan Alkitab berikutnya.


Minggu itu, jemaat tersebut membuat perjanjian dengan seorang pengrajin perak untuk melihat bagaimana proses kerjanya saat memurnikan perak. Dia tidak menyebutkan sama sekali alasannya mengapa dia ingin mencari tahu proses pemurnian perak.


Dia menyaksikan pengrajin perak itu sedang memanaskan perak di atas api. Pengrajin itu menjelaskan bahwa ketika hendak memurnikan perak, dia harus MENJAGA agar perak itu TETAP ADA DI TENGAH-TENGAH PERAPIAN, dimana terdapat SUHU YANG PALING PANAS, agar supaya perak itu dapat dimurnikan dari segala debu, batu, dan berbagai kekotoran yang melekat pada perak itu.


Jemaat itu kemudian membayangkan bagaimana Allah "menjaga" kita pada titik api yang TERPANAS, dan kemudian teringat kembali pada ayat yang mereka renungkan: "Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak".


Kemudian dia bertanya kepada pengrajin perak itu apakah benar bahwa dia harus duduk di depan api sepanjang waktu hingga perak itu menjadi murni ?


Pengrajin itu berkata "YA", dia bukan hanya harus duduk menjaga perak itu, tetapi juga harus terus-menerus MEMPERHATIKAN perak di atas api itu setiap saat. Jika TERLAMBAT DIANGKAT sedikit saja, perak itu akan RUSAK.


Jemaat itu terdiam sebentar, dan kemudian bertanya, "Bagaimana anda tahu bahwa perak itu sudah benar-benar murni?"


Pengrajin itu tersenyum dan menjawab, "Oh, itu sangat mudah. Perak itu telah murni ketika saya BISA MELIHAT WAJAH SAYA DI DALAMNYA.


Jika hari ini engkau merasa sedang berada di tengah api yang panas, ingatlah bahwa Allah sedang memandang engkau, dan akan terus memandangmu hingga Dia dapat melihat Wajah-Nya di dalam engkau.
Renungan Harian Kristen 

Renungan Harian Kristen - KHOTBAH YANG HIDUP

Bacaan Alkitab : II Korintus 3-1-18

“…dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang”
(2 Korintus 3:2).


Dr. Albert Schweitzer
Pada suatu sore di tahun 1953, para pejabat dan reporter berkumpul di stasiun kereta api Chicago menantikan kedatangan peraih hadiah Nobel Perdamaian tahun 1952. Seorang pria raksasa, tinggi 2 meter, dengan rambut acak-acakan dan kumis panjang melangkah keluar dari kereta api. Sementara juru foto sibuk memotretnya, para pejabat kota mendekatinya dan berjabatan tangan seraya mengatakan alangkah mereka merasa diri terhormat dapat bertemu dengannya. Ia berterima kasih kepada mereka dengan sopan. 

Tiba-tiba pria itu meminta diri sebentar dan tampak tergesa-gesa berjalan menerobos kerumunan dan melangkah dengan cepat hingga mencapai seorang wanita kulit hitam yang sudah lanjut usia yang sedang bersusah payah mencoba memikul dua koper besar. Pria jangkung itu kemudian mengangkat koper-koper itu, tersenyum, dan menuntun wanita tua itu ke sebuah bus. Setelah menolong wanita itu, ia mengucapkan selamat jalan dan mengharapkan perjalanan yang baik. Sementara itu, kerumunan orang banyak membuntutinya. Ia menoleh kepada mereka dan berkata, “Maaf, saya telah membuat Anda menunggu.” Orang itu adalah Dr. Albert Schweitzer, dokter misi yang telah menghabiskan waktunya membantu orang-orang paling miskin di Afrika. Seorang anggota panitia penyambutan berkata kepada salah seorang reporter, “Inilah untuk pertama kali saya melihat sebuah khotbah berjalan.”

Bukankah ini adalah sebuah kisah yang sangat memberkati hidup kita? Orang yang dapat menjadi berkat adalah seorang yang tetap rendah hati sekalipun dipuji. Ujian hidup paling besar adalah justru ketika kita sedang diberkati atau berada di puncak. Biasanya manusia akan mudah menjadi sombong dan lupa diri saat menerima pujian. Tetapi belajarlah dari seorang dokter misi peraih hadiah Nobel itu. Ia tetap saja rendah hati saat orang-orang begitu mengaguminya, ia tidak pernah lupa panggilan hidupnya untuk terus menjadi berkat bagi orang lain.

Rasul Paulus pun menyebut jemaat Korintus adalah surat pujian yang dapat dibaca oleh semua orang. Mereka adalah surat Kristus! Begitu pula dengan kita orang-orang percaya. Pengajaran-pengajaran kita tidak akan berarti jika kita tidak menunjukkannya dengan teladan hidup kita sehari-hari. Jika Kristus hidup dalam hidup kita, maka sifat dan karakter Kristus akan nyata melalui perbuatan-perbuatan kita. Dan dimanapun kita berada, setiap orang akan memperhatikan dan membaca segala sesuatu yang kita lakukan. Melalui hidup kita, kita pun dapat memberikan khotbah-khotbah terbaik yang dapat dibaca oleh setiap orang. (Sam).

Jumat, 07 Desember 2012

Cerpen Kristen - Sabar Dalam Berbagai Masalah

Ketika seseorang yang hidupnya dibawah tekanan dan masalah yang bertubi-tubi, emosinya cenderung tinggi. Dan kemungkinan besar emosi itu akan meledak lewat kata-kata yang kasar atau juga lewat perbuatan dan tindakan.

Seorang pemuda yang karena tidak dapat menahan ledakan emosinya, akhirnya harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Dalam ruang jeruji, dia menyesal, dan ketika masa tahanannya selesai, dia langsung menemui seorang Pendeta.

Ia menceritakan permasalahannya dan dia minta tolong di doakan agar dia bisa menjadi orang yang sabar. Kemudian Pendeta mengajaknya utk berdoa :

Pendeta : "Tuhan... kirimkanlah dalam hidup anak muda ini kesulitan di pagi hari, kesulitan di siang hari dan kesulitan di ...."

Sebelum Pendeta tersebut selesai berdoa, dengan emosinya pemuda tersebut memotong doa sang Pendeta : "Maaf Pak, saya minta di doakan kesabaran, bukan kesulitan, karena kesulitan yang bertumpuk-tumpuk itu membuat emosi saya tidak terkendali dan tidak ada kesabaran".

Pendeta menjawab : "Justru 'melalui kesulitan' itulah kita belajar kesabaran. Kesulitan melatih kita untuk menguasai diri".

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain". (1 Korintus 13:4-5).

Sahabat RHK, dalam kehidupan kita sehari-hari, pada situasi dan kondisi apapun juga, marilah kita terus belajar dan belajar untuk bersabar.

Belajar untuk menguasai emosi dan kemarahan. Karena orang sabar itu dikasihi Tuhan dan juga sesamanya.

DOA : "Tuhan Yesus, tolong kami agar dapat menguasai diri kami dan untuk sabar terhadap sesama kami. Amin."



Rabu, 05 Desember 2012

Cerpen Kristen - Tukang Arloji

Di Jerman tinggal seorang tukang arloji. Namanya Herman Josep. Dia tinggal di sebuah kamar yang sempit. Di kamar itu ada sebuah bangku kerja, sebuah lemari tempat kayu dan perkakas kerjanya, sebuah rak untuk tempat piring dan gelas serta tempat tidur lipat di bawah bangku kerjanya.

Selain puluhan arloji yang sudah dibuatnya tidak ada barang berharga lain di kamarnya. Di jendela kaca kamar itu Herman menaruh sebuah jam dinding paling bagus untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat. Herman adalah seorang tukang arloji yang miskin. Pakaiannya compang-camping. Tetapi dia baik hati. Anak-anak di sekitar rumah menyukainya. Kalau permainan mereka rusak, Herman biasa diminta memperbaiki. Herman tak pernah minta satu sen pun untuk itu. “Belilah makanan yang enak atau tabunglah uang itu untuk hari Natal.” Ini jawaban yang Herman selalu berikan.

Sejak dulu penduduk kota itu biasa membawa hadiah Natal ke Kathedral dan meletakkannya di kaki patung Maria yang sedang memangku bayi Yesus. Setiap orang menabung supaya bisa memberi hadiah yang paling indah pada Yesus. Orang-orang bilang, kalau Yesus suka hadiah yang diberikan kepada-Nya, Ia akan mengulurkan tangan-Nya dari pelukan Maria untuk menerima bingkisan itu. Tentu saja ini legenda. Belum pernah terjadi bayi Yesus dalam pelukan Maria mengulurkan tangan menerima bingkisan Natal untuk-Nya.

Meskipun begitu penduduk kota itu selalu berusaha membawa bingkisan yang paling indah. Para penulis puisi membuat syair-syair yang aduhai. Anak-anak juga tidak ketinggalan. Setiap orang berlomba memberikan yang terbaik pada Yesus di Hari Natal. Siapa tahu, kata mereka, Yesus mengulurkan tangan menerima pemberian itu. Orang-orang yang tidak punya bingkisan, pergi ke Gereja untuk berbakti pada malam Natal sekaligus menilai bingkisan mana yang terindah. Herman, tukang arloji, adalah salah seorang yang hanya pergi untuk berbakti dan menonton.

Pernah ada seorang teman mencegah Herman dan bertanya: “Kau tidak tahu malu. Tiap tahun kau tak pernah membawa bingkisan Natal buat Yesus?”. Pernah satu kali panitia Natal bertanya: “Herman! Mana bingkisan Natal darimu? Orang-orang yang lebih miskin dari kau saja selalu bawa.” Herman menjawab: “Tunggulah, satu ketika saya akan bawa bingkisan”. Tapi sedihnya, tukang arloji ini tak pernah punya apa-apa untuk Yesus. Arloji yang dibuatnya dijual dengan harga murah. Kadang-kadang ia memberikan gratis pada orang yang benar-benar perlu.

Tetapi dia punya ide. Tiap hari ia bekerja untuk bingkisan natal itu. Tidak satu orangpun yang tahu ide itu kecuali Trude, anak perempuan tetangganya. Trude berumur 7 tahun waktu ia tahu ide Herman. Tetapi setelah Trude berumur 31 tahun bingkisan itu belum selesai. Herman membuat sebuah jam dinding. Mungkin yang paling indah dan belum pernah ada. Setiap bagian dikerjakan dengan hati-hati dan penuh kasih. Bingkainya, jarum-jarumnya, beratnya, dan yang lainnya diukir dengan teliti. Sudah 24 tahun Herman merangkai jam dinding itu.

Masuk tahun ke-25 Herman hampir selesai. Tapi dia juga masih terus membantu memperbaiki mainan anak-anak. Perhatiannya pada hadiah Natal itu membuat dia tidak punya cukup waktu untuk buat arloji dan menjualnya. Kadang Herman tidur dengan perut kosong. Ia makin tambah kurus tetapi jam dindingnya makin tanbah cantik. Di jam dinding itu ada kandang, Maria sedang berlutut di samping palungan yang di dalamnya terbaring bayi Yesus. Di sekeliling palungan itu ada Yusuf serta tiga orang Majus, gembala-gembala dan dua orang malaikat. Kalau jam dinding itu berdering, orang-orang tadi berlutut di depan palungan Yesus dan terdengar lagu “Gloria in Excelsis Deo”.

“Lihat ini!” kata Herman pada Trude. “Ini berarti bahwa kita harus menyembah Kristus bukan hanya pada hari Minggu atau hari raya tetapi pada setiap hari dan setiap jam. Yesus menunggu bingkisan kita setiap detik.” Jam dinding itu sudah selesai. Herman puas. Ia menaruh benda itu di jendela kaca kamarnya supaya bisa dilihat orang. Orang-orang yang lewat berdiri berjam-jam mengagumi benda itu. Mereka sudah menduga bahwa ini pasti bingkisan Natal dari Herman. Hari Natal sudah tiba. Pagi itu Herman membersihkan rumahnya. Ia mengambil pakaiannya yang paling bagus. Sambil bekerja ia melihat jam dinding itu. Ia takut jangan-jangan ada kerusakan. Dia senang sekali sehingga ia memberikan uang yang dia miliki kepada pengemis-pengemis yang lewat di rumahnya.

Tiba-tiba ia ingat, sejak pagi dia belum sarapan. Ia segera ke pasar untuk membeli sepotong roti dengan uang terakhir yang ada padanya. Di lemarinya ada sebuah apel. Ia mau makan roti dengan apel itu. Waktu dia buka pintu, Trude masuk sambil menangis. “Ada apa?” tanya Herman. "Suami saya mengalami kecelakaan. Sekarang dia di RS. Uang yang kami tabung untuk beli pohon Natal dan kue harus saya pakai untuk bayar dokter. Anak-anak sudah menuggu hadiah Natal. Apa lagi yang harus saya berikan untuk mereka?”

Herman tersenyum. “Tenanglah Trude. Semua akan beres. Saya akan jual arloji saya yang masih sisa. Kita akan punya cukup uang untuk beli mainan anak-anak. Pulanglah.”

Herman mengambil jas dinginnya lalu pergi ke pasar dengan satu jam tangan yang unik. Ia tawarkan jam itu di toko arloji. Tapi mereka tidak berminat. Ia pergi ke kantor gadai tapi pegawai-pegawai bilang arloji itu kuno. Akhirnya ia pergi ke rumah walikota. “Tuan, saya butuh uang untuk membeli mainan bagi beberapa anak. Tolong beli arloji ini?” Pak walikota tertawa. “Saya mau beli arloji tetapi bukan yang ini. Saya mau jam dinding yang ada di jendela kaca rumahmu. Berapapun harganya saya siap.” “Tidak mungkin tuan. Benda itu tidak saya jual". "Apa? Bagi saya semua mungkin. Pergilah sekarang. Satu jam lagi saya akan kirim polisi untuk ambil jam dinding itu dan kau dapat uang 1000 dolar.”

Herman pergi sambil geleng-geleng kepala. “Tidak mungkin! Saya mau jual semua yang saya punya. Tapi jam dinding itu tidak. Itu untuk Yesus.” Waktu ia tiba dekat rumah, Trude dan anak-anaknya sudah menunggu. Mereka sedang menyanyi. Merdu sekali. Baru saja Herman masuk, beberapa orang polisi sudah berdiri di depan. Mereka berteriak agar pintu dibuka. Jam dinding itu mereka ambil dan uang 1000 dolar diberikan pada Herman. Tetapi Herman tidak menerima uang itu. “Barang itu tidak saya jual. Ambillah uang itu,” teriak Herman sedih. Orang-orang itu pergi membawa jam dinding serta uang tadi. Pada waktu itu lonceng gereja berbunyi. Jalan menuju kathedral penuh manusia. Tiap orang membawa bingkisan di tangan.

“Kali ini saya pergi dengan tangan kosong lagi”, kata Herman sedih. “Saya akan buat lagi satu yang lebih cantik.” Herman bangkit untuk pergi ke gereja. Saat itu ia melihat apel di dalam lemari. Ia tersenyum dan meraih apel itu. “Inilah satu-satunya yang saya punya, makanan saya pada hari natal. Saya akan berikan ini pada Yesus. Itu lebih baik dari pada pergi dengan tangan kosong.”

Katedral penuh. Suasana bukan main semarak. Ratusan lilin menyala dan bau kemenyan terasa di mana-mana. Altar tempat patung Maria memangku bayi Yesus penuh dengan bingkisan. Semuanya indah dan mahal. Di situ juga ada jam dinding buatan tukang arloji itu. Rupanya Pak walikota mempersembahkan benda itu pada Yesus. Herman masuk. Ia melangkah dengan kaki berat menuju altar dengan memegang apel. Semua mata tertuju padanya. Ia mendengar mereka mengejek, makin jelas. “Cih! Dia memang benar-benar pelit. Jam dindingnya yang indah dia jual. Lihatlah apa yang dia bawa. Memalukan!”

Hati Herman sedih, tetapi ia terus maju. Kepalanya tertunduk. Ia tidak berani memandang orang sekeliling. Matanya ditutup. Tangan yang kiri diulurkan ke depan untuk membuka jalan. Jarak altar masih jauh. Herman tahu bahwa ia harus naik anak tangga untuk sampai ke altar. Sekarang kakinya menyentuh anak tangga pertama. Herman berhenti sebentar. Ia tidak punya tenaga lagi. Sejak pagi dia belum makan apa-apa. Ada tujuh anak tangga. “Dapakah saya sampai ke altar itu?”

Herman mulai menghitung. Satu! Dua! Tiga! Empat! lalu ia terantuk dan hampir terguling ke bawah. Serentak semua orang berkata: “Memalukan!” Setelah mengumpulkan sisa tenaga Herman bergerak lagi. Tangga kelima. Kedengaran suara mengejek: “Huuuu…!” Herman naik setapak lagi. Tangga keenam. Omelan dan ejekan orang-orang berhenti. Sebagai gantinya terdengar seruan keheranan semua orang yang hadir. “Mujizat! Sebuah mujizat!!!”

Hadirin seluruhnya turun dari kursi dan berlutut. Imam merapatkan tangannya dan mengucapkan doa. Herman, tukang arloji yang miskin ini menaiki anak tangga yang terakhir. Ia mengangkat wajahnya. Dengan heran ia melihat patung bayi Yesus yang ada di pangkuan Maria sedang mengulurkan tangan untuk menerima bingkisan Natal darinya. Air mata menetes dari mata tukang arloji itu. Inilah hari Natal yang paling indah dalam hidupnya.


Ingat YESUS Hanya Ketika Natal ???

Di sebuah gereja yang berada di desa terpencil telah berkumpul seluruh penduduk desa yang menjadi jemaat pada gereja tersebut. Malam itu mereka datang berbondong-bondong ingin merayakan Natal dan melihat drama tentang kelahiran Yesus. Seperti biasanya, drama itu dimulai di akhir acara setelah ibadah Natal selesai. Semua jemaat bersorak-sorai menyanyikan lagu-lagu Natal dan mengikuti ibadah Natal.

Ketika khotbah sudah hampir selesai, para muda-mudi yang akan tampil pada drama tersebut mulai mempersiapkan diri. Seorang pemudi yang akan berperan sebagai Maria tampak panik seperti sedang mencari-cari sesuatu. Setelah ditanya, ternyata boneka Yesus yang akan digendongnya nanti tidak kelihatan. Semua pemain dan panitia menjadi panik karena tidak ada boneka pengganti. Sementara toko penjual boneka sangat jauh dari desa itu dan itu pun belum tentu buka karena hari sudah sangat malam. 

Semua orang yang ada di belakang panggung sibuk mencari boneka tersebut, karena tanpa boneka itu drama tersebut menjadi kurang lengkap. Boneka itu harus terlihat oleh para penonton ketika nanti sedang di gendong oleh pemeran Maria dan ketika diletakkan di palungan. Tentu saja mata semua penonton akan terfokus pada boneka itu. Pertunjukan drama pun sempat tertunda lebih dari setengah jam.

Setelah semua ruangan di belakang panggung diperiksa, namun boneka belum juga bisa ditemukan. Sampai suatu waktu seorang panitia teringat akan gudang kecil yang ada di bawah tangga. Gudang itu adalah tempat penyimpanan peralatan dan sisa-sisa bahan untuk dekorasi panggung. Setelah dicari, akhirnya boneka Yesus pun ditemukan dibawah tumpukan kardus. Semua pemain dan panitia merasa senang karena boneka Yesus itu sudah ditemukan. Dan pertunjukan drama pun dimulai. Semua penonton mempunyai rasa haru dan penilaian tersendiri tentang drama tersebut. Mereka semua bersukacita setelah menyaksikan pertunjukan drama tersebut.

Ketika acara sudah selesai, semua jemaat yang hadir pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Tinggallah hanya pendeta, panitia, dan para pemain drama. Mereka membereskan dan membersihkan lokasi panggung yang telah mereka pergunakan tadi. Semua peralatan disimpan kembali termasuk boneka Yesus yang tadi sempat dicari-cari. Boneka itu kembali dilemparkan kedalam gudang bercampur dengan barang-barang lain dan mungkin akan dipergunakan kembali pada tahun berikutnya jika pentas drama kelahiran Yesus di adakan lagi di gereja tersebut.

Demikian halnya dengan kita, seringkali kita mengingat akan Yesus hanya ketika Natal. Datang ke gereja hanya pada waktu Natal. Memberikan persembahan hanya pada waktu Natal. Bernyanyi dan memuji Tuhan hanya ketika Natal juga. Dan bahkan berdoa pun hanya ketika Natal saja. Setelah Natal berlalu, Yesus pun ikut berlalu dari pikiran kita. Apalagi ketika kehidupan ekonomi kita berkecukupan atau bahkan berkelimpahan, seringkali kita melupakan Yesus. 

- Kita lupa bahwa DIA tidak pernah melupakan kita. 
- Kita lupa bahwa DIA yang memberikan NAFAS kehidupan. 
- Kita lupa bahwa DIA yang memberikan KESEHATAN.
- Kita lupa bahwa DIA yang memberikan PEKERJAAN dan USAHA.
- Kita lupa bahwa DIA yang memberikan SUAMI/ISTRI.
- Kita lupa bahwa DIA yang memberikan ANAK dan KETURUNAN.
- Kita lupa bahwa DIA yang memberikan RUMAH dan MOBIL.
- Kita lupa bahwa DIA yang memberikan semua yang kita miliki.

Sahabat-sahabat RHK yang dikasihi Tuhan, marilah kita tetap mengingat dan mengandalkan YESUS setiap saat. Meskipun hidupmu susah, ingat dan andalkan YESUS. Atau mungkin hidupmu saat ini sedang dalam keadaan berkecukupan, tetap ingat YESUS dan senantiasalah mengucap syukur kepada-NYA. Karena DIA adalah sumber berkat dan kekuatan kita. (SamuelSadusi).

Di saat kita PUNYA MASALAH kita berpikir bahwa TUHAN ITU TIDAK ADIL. 
Tapi di saat kita SUKSES, seringkali kita LUPA dan TIDAK PERNAH MENYADARI keberadaan TUHAN.

 

Sabtu, 01 Desember 2012

Cerpen Kristen - Kisah Tiga Pohon

Pada suatu hari di atas sebuah bukit yang ada dalam sebuah hutan, ada 3 batang pohon sedang berbincang-bincang tentang harapan-harapan dan mimpi-mimpi mereka. 
Pohon yang pertama berkata : Suatu hari nanti aku berharap bisa menjadi sebuah kotak tempat penyimpanan harta. Aku bisa dihiasi dengan ukiran-ukiran yang rumit, setiap orang akan melihat kecantikanku. 
Pohon yang kedua berkata : Suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan membawa para raja dan ratu mengarungi lautan sampai ke ujung-ujung bumi. Setiap orang akan merasa aman dalamku karena kekuatan dari tubuhku. 
Lalu pohon yang ketiga berkata : Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi terkuat di hutan ini. orang akan memandangku dari atas puncak bukit dapat melihat carang-carangku. Kalau orang berpikir tentang surga Allah betapa dekatnya jangkauanku ke sana. Aku akan menjadi pohon yang terbesar di sepanjang waktu, dan orang akan mengingat aku senantiasa.

Setelah beberapa tahun berdoa, mimpi mereka menjadi kenyataan. Datanglah satu kelompok penebang kayu ke hutan itu. Ketika seorang penebang kayu menghampiri pohon pertama ia berkata, "Kelihatannya pohon ini kuat sekali, aku kira ini dapat dijual kepada seorang tukang kayu", dan ia pun mulai menebang pohon itu. Pohon tersebut bahagia sekali karena ia tahu bahwa si tukang kayu akan menjadikannya sebuah peti penyimpan harta. 
Seorang penebang kayu lainnya berkata kepada pohon yang kedua, "Kelihatannya pohon ini kuat aku dapat menjualnya kepada tukang pembuat kapal". Pohon tersebut bahagia karena ia tahu ia akan menjadi sebuah kapal yang besar. 
Ketika seorang penebang kayu menghampiri pohon yang ketiga, pohon tersebut ketakutan karena ia tahu kalau ia sampai ditebang, maka mimpinya tidak akan menjadi kenyataan. Salah seorang penebang kayu berkata, "Aku tidak perlu sesuatu yang spesial dari pohon ini jadi aku bawa saja". Kemudian pohon itu pun ditebang.

Ketika pohon pertama dibawa kepada tukang kayu, ia dijadikan sebuah kotak tempat makanan hewan. Ia diletakkan di sebuah kandang dipenuhi dengan jerami. Hal ini bukanlah seperti yang pohon tersebut doakan. Pohon kedua dipotong-potong dijadikan sebuah perahu kecil pemancing ikan. Mimpinya menjadi sebuah kapal yang besar yang dapat membawa para raja berakhir sudah. Pohon ketiga dipotong-potong dalam ukuran yang besar-besar dan ditinggal begitu saja dalam kegelapan.

Tahun demi tahun berlalu pohon-pohon tersebut sudah lupa akan mimpi mereka. Suatu hari ada sepasang pria dan wanita datang ke kandang tersebut. Si wanita melahirkan seorang BAYI dan meletakkan bayi tersebut dalam kotak makanan hewan (yang dibuat dari pohon pertama) yang dipenuhi jerami. Si pria berharap mendapatkan tempat tidur untuk bayi tersebut tapi palungan itulah yang menjadi tempatnya. Pohon tersebut dapat merasakan betapa penting peristiwa tersebut karena ia telah menyimpan harta yang termulia sepanjang jaman.




Tahun-tahun berikutnya, sekelompok orang berada dalam sebuah perahu pemancing ikan dibuat dari pohon yang kedua. Salah seorang dari mereka sedang kelelahan akhirnya tertidur. Ketika mereka ada di tengah-tengah laut, gelombang besar melanda mereka. Pohon tersebut tidak menyangka kalau ia cukup kuat untuk menyelamatkan orang-orang yang ada dalam perahu tersebut. Orang-orang tersebut membangunkan orang yang sedang tidur itu, kemudian ia berdiri sambil berkata : "Diam", tenanglah gelombang tersebut. Kali ini pohon tersebut menyadari bahwa ia telah membawa Raja diatas segala raja dalam perahunya.



Akhirnya ada seorang datang mendapatkan pohon yang ketiga. Pohon tersebut diseret sepanjang jalan banyak yang mengejek orang yang sedang memikul kayu tersebut. Ketika mereka sampai pada suatu tempat, orang tersebut dipakukan pada kayu tersebut diangkat tinggi sampai mati di atas sebuah puncak bukit. Ketika hari Minggu tiba, pohon tersebut menyadari bahwa ia cukup kuat untuk tegak berdiri diatas puncak berada sedekat mungkin dgn Allah karena Yesus telah disalibkan pada kayu pohon tersebut.



Renungan :

Ketika segala rencana kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetapi Allah punya rencana yang lebih indah bagi kita. Percayalah kepada-Nya, dan Ia akan memberi karunia-karunia besar. Masing-masing pohon tersebut mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun tidak seperti yang mereka bayangkan.


Kamis, 22 November 2012

Cerpen Kristen - SURGA DAN NERAKA

Seorang pria berbicara dengan Tuhan tentang surga dan neraka. Tuhan berkata kepada pria tadi, "Kemarilah, Aku akan memerlihatkan neraka padamu." 
Mereka masuk ke sebuah ruangan di mana sekelompok orang duduk mengitari wajan besar berisi makanan. Semua orang sangat kelaparan dan putus asa. Setiap orang memegang sendok untuk mengambil makanan di wajan, namun setiap sendok memiliki gagang yang jauh lebih panjang daripada lengan mereka sehingga sendok itu tidak dapat digunakan untuk memasukkan makanan ke dalam mulut mereka. Penderitaannya benar-benar luar biasa.

"Kemarilah, sekarang Aku akan memerlihatkan surga padamu," kata Tuhan sesaat kemudian. Mereka masuk ke ruangan lain, sama persis dengan ruangan yang pertama -- wajan besar, sekelompok orang, sendok dengan gagang panjang. Tapi semua orang bahagia dan cukup gizi.

"Aku tidak mengerti," kata pria tadi. "Mengapa mereka bahagia dan yang satu lagi menderita, padahal mereka ada di tempat yang sama?"

Tuhan tersenyum, "Ah, sederhana saja," kata-Nya. "Di sini, mereka telah belajar untuk saling menyuapi."

Ayat Renungan :
"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa." (Yohanes 12:26).


Humor Kristen, Cerita Lucu Kristen, dan Cerpen Kristen yang ada pada Blog Renungan Harian Kristen ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak lain. Misalnya berupa nama orang, nama tempat, nama suku, nama gereja, profesi, dan lain-lain.

Humor Kristen - TOSS

Suatu hari saya naik metromini menuju ke Roxy Mas. Di rel kereta, mobil kami dibajak oleh sejumlah preman, mereka berusaha untuk mengambil barang-barang berharga para penumpang. Karena ketakutan saya berusaha untuk menyembunyikan handphone dan dompet ke bawah mobil tapi ketika saya coba tengok ke belakang, salah seorang preman itu tersenyum pada saya, maka terjadilah percakapan antara saya dengannya.

Preman: "Tenang Mbak, Mbak ga akan kita jambret deh."
Saya : "Benar yah Mas, saya ga akan dijambret."
Preman: "Ya pokoknya Mbak tenang aja deh."

Karena merasa kurang yakin, saya coba melihat preman yang di depan yang sedang mengancam penumpang lain dengan pisau. Tubuhnya yang penuh tato membuat saya takut. Saya merasa walau preman di belakang bilang tidak tapi kalau dia mengancam saya pasti saya kena.

Seakan mengerti kondisi saya, satu hal yang menakjubkan, preman yang seram ini menghampiri saya dan berkata, "Tenang Mbak, Mbak gak akan saya copet, Mbak ngga percaya sama saya? Kalo gitu kita toss dulu deh. Lalu saya pun toss dengan preman tersebut.

Sambil tersenyum saya berkata, "Terima kasih ya Mas, karena saya gak dicopet." Entah apa benar ucapan saya itu. Ketika turun hanya satu yang saya lakukan yaitu terbahak-bahak.

Ayat Renungan :
"Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10).


Humor Kristen, Cerita Lucu Kristen, dan Cerpen Kristen yang ada pada Blog Renungan Harian Kristen ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak lain. Misalnya berupa nama orang, nama tempat, nama suku, nama gereja, profesi, dan lain-lain.

Humor Kristen - ANJING TERSAYANG

Seorang janda tua, melakukan perjalanan seorang diri. Dia pergi ke kota di mana dia tinggal sewaktu suaminya masih hidup dulu.

Saat tiba di bandara, dia menginformasikan kepada pihak pesawat bahwa dia ingin membawa sebuah keranjang berisi anjing yang kelihatan sedang tidur nyenyak ke dalam kabin. Dia menjadi sangat marah ketika pihak pesawat melarangnya. Tetapi akhirnya anjing itu boleh dibawa asal di taruh di ruang bagasi.

Sang pilot berkata kepadanya, "Di sana akan hangat dan nyaman Nyonya. Anjingmu akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikuatirkan."

Saat tiba di bandara pertama untuk mengisi bahan bakar, petugas pesawat memeriksa keadaan si anjing. Ternyata anjing itu mati! Para petugas pesawat segera pergi secepat mungkin ke kota untuk mencari penggantinya, dan akhirnya mereka menemukan anjing yang berwarna, berukuran, dan berjenis kelamin sama dengan anjing yang mati itu. Anjing baru itu di taruh di tempat anjing yang sudah mati.

Saat tiba di bandara tujuan, mereka memberikan anjing tersebut kepada si pemiliknya. Dengan wajah terkejut nyonya tersebut berkata, "Maaf, tapi ini bukan anjing saya!"

Pilot pesawat mengatakan, "Oh itu pasti anjing Anda, Nyonya. Lihat, ukuran, warna, dan jenis kelaminnya sama."

Sang nyonya dengan nada tinggi kembali menjawab, "INI, BUKAN ANJING SAYA!!"

"Mengapa Anda begitu yakin kalau ini bukan anjing Anda?" tanya sang pilot.

Sang nyonya menjawab, "Karena anjingku itu sudah mati! Aku mau membawa dia ke tempat tinggalku dulu dan menguburkannya di samping kuburan suamiku!!"

Ayat Renungan :

"Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya." (Imamat 19:11).


Humor Kristen, Cerita Lucu Kristen, dan Cerpen Kristen yang ada pada Blog Renungan Harian Kristen ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak lain. Misalnya berupa nama orang, nama tempat, nama suku, nama gereja, profesi, dan lain-lain.

Senin, 19 November 2012

Cerpen Kristen - Arti Berkelimpahan

Di sebuah rumah yang sangat sederhana, hiduplah seorang anak kecil. Suatu hari, dia melihat dari balik jendela rumahnya ada sebuah rumah yang sangat besar dengan jendela yang berkilauan seperti emas. Anak itu pun ingin pergi kesana untuk menikmati semua kemewahan yang ada di dalam rumah itu.

Meskipun anak itu tumbuh di lingkukan keluarga yang penuh dengan cinta, tetapi anak kecil itu tetap ingin pergi ke rumah dengan jendela emas yang ada di seberang. Dia menyimpan semua mimpi-mimpinya itu sampai dewasa. Anak kecil itu telah mejadi pemuda yang gagah dan dia memutuskan untuk pergi ke rumah yang dia impikan sejak kecil.

Sesampainya di rumah itu, dia menjadi sangat kecewa. Rumah itu memang besar tetapi tidak terawat. Rumahnya sangat kotor dan tidak berpenghuni. Jendelanya ternyata bukan terbuat dari emas, melainkan hanya di cat kuning emas saja. Dia pun memutuskan untuk kembali pulang. Dari tempat itu, dia melihat jauh ke seberang. Dia melihat ada rumah yang sangat baik. Rumah itu tidak besar tetapi terlihat sangat menarik. Ya, itu adalah rumah dimana dia dirawat dan dibesarkan oleh orang-orang terncinta. Rumah yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Dia baru menyadari bahwa selama ini dia telah tinggal di sebuah rumah dengan jendela “emas” sesuai yang dia impikan.

Seringkali manusia hidup dan terlalu fokus dengan berkat-berkat kecil yang dimiliki oleh orang lain sehingga tidak bisa menikmati berkat yang Tuhan berikan kepadanya. Hendaknya kita fokus pada berkat dan kekuatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Tuhan ingin kita fokus pada rancangan-rancangan yang sudah Dia buat untuk kita. Bekerjalah dengan tekun tanpa putus asa, karena itulah yang Tuhan inginkan dari kita. Tuhan menjadikan lingkungan sekitar kita baik itu pekerjaan atau pun keluarga, sebagai sarana-Nya untuk memberkati kita.

   

Senin, 05 November 2012

Cerpen Kristen - Sesuatu Tidak Selalu Kelihatan Sebagaimana Adanya

Dua orang malaikat berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu sangat kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat itu bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya Malaikat tersebut ditempatkan pada sebuah kamar berukuran kecil yang ada di basement. Ketika malaikat itu hendak tidur, malaikat yang lebih tua melihat bahwa dinding basement itu retak.

Kemudian malaikat itu memperbaikinya sehingga retak pada dinding basement itu lenyap. Ketika malaikat yang lebih muda bertanya mengapa ia melakukan hal itu, malaikat yang lebih tua menjawab, "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya".

Malam berikutnya, kedua malaikat itu beristirahat di rumah seorang petani dan istrinya yang miskin tetapi sangat ramah.

Setelah membagi sedikit makanan yang ia punyai, petani itu mempersilahkan kedua malaikat untuk tidur di atas tempat tidurnya.

Ketika matahari terbit keesokan harinya, malaikat menemukan bahwa petani itu dan istrinya sedang menangis sedih karena sapi mereka yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya bagi mereka terbaring mati.

Malaikat yang lebih muda merasa geram. Ia bertanya kepada malaikat yang lebih tua, "Mengapa kau membiarkan hal ini terjadi? Keluarga yang pertama memiliki segalanya, tapi engkau menolong menambalkan dindingnya yang retak. Keluarga ini hanya memiliki sedikit tetapi walaupun demikian mereka bersedia membaginya dengan kita. Mengapa engkau membiarkan sapinya mati ?"

Malaikat yang lebih tua menjawab, "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya. Ketika kita bermalam di basement, aku melihat ada emas tersimpan di lubang dalam dinding itu. Karena pemilik rumah sangat tamak dan tidak bersedia membagi hartanya, aku menutup dinding itu agar ia tidak menemukan emas itu. Tadi malam ketika kita tidur di ranjang petani ini, malaikat maut datang untuk mengambil nyawa istrinya. Aku memberikan sapinya agar malaikat maut tidak jadi mengambil istrinya. "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagai mana adanya."

Kadang-kadang itulah yang kita rasakan ketika kita berpikir bahwa sesuatu tidak seharusnya terjadi.

Jika kita punya iman, kita hanya perlu percaya sepenuhnya bahwa semua hal yang terjadi adalah demi kebaikan kita. Kita mungkin tidak menyadari hal itu sampai saatnya tiba. (Cerpen Kristen).



KETIKA TUHAN BERKATA: "TIDAK...!!!"

Ya Tuhan, tolong ambil kesombonganku dari diriku.
Tuhan berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkan nya."

Ya Tuhan, sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."

Ya Tuhan, beri aku kesabaran.
Tuhan berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri ."

Ya Tuhan, beri aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri. "

Ya Tuhan, jauhkan aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku."
Ya Tuhan, beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
Ya Tuhan, bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Tuhan berkata... "Ahhhh, akhirnya kau mengerti !"

Kadang kala kita berpikir bahwa Tuhan tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan dan bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali.

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya tanpa susah payah. 

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakan dan kegagalan, sementara orang lain dengan mudah berganti pasangan. 

Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat. Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa bahwa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Tuhan) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.

Begitu pula dengan Tuhan, segala yang kita minta Tuhan tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Tuhan mengabulkan nya. Karena Tuhan tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa.

 
There's a time and place for everything, for everyone. 
God works in a mysterious way. 
We won't know what is HIS plan, but one thing we have to believe 
HE always give us the best way eventhough it will hurt us.



Senin, 08 Oktober 2012

Cerpen Kristen - Batu Kecil

Suatu hari di sebuah proyek pembangunan sebuah gedung, seorang pekerja bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.

Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

Renungan : 
Tuhan kadang-kadang menguji dengan ujian yang ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Seringkali Tuhan melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepada-Nya, Tuhan sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

Cerpen Kristen - PELAJARAN DARI SANG KELEDAI

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan menimbun keledai tersebut karena hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena sangat berbahaya. Si petani berpikiran bahwa tidak gunanya menolong si keledai. Lalu ia mengajak tetangganya untuk membantunya menimbun sumur tersebut yang di dalamnya ada seekor keledai miliknya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia meronta-ronta. Tetapi kemudian, ia menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang melihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, namun si keledai juga terus menguncangkan badannya dan kemudian melangkah naik. Si keledai akhirnya bisa meloncat dari sumur dan kemudian melarikan diri.

Renungan:

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari "sumur" (kesedihan dan masalah) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari "sumur" dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari "sumur" yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah. Guncangkanlah hal-hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik.

Jumat, 11 Mei 2012

Cerpen Kristen - KESOMBONGAN PENDOA

Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat membagi pulau kecil itu menjadi dua dan mereka tinggal berseberangan.

Doa pertama, mereka memohon diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki pertama melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian, lelaki pertama merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan istri, keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat lelaki ke satu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki kedua tetap saja tidak ada apa-apanya.

Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, lelaki pertama ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi hari mereka menemukan kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki pertama dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki kedua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkat tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan.

Begitu kapal siap berangkat, lelaki pertama mendengar suara dari langit, "Hai....Mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?"
"Berkatku hanyalah milikku sendiri, hanya karena doakulah yang dikabulkan," jawab lelaki pertama. "Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka ia tak pantas mendapatkan apa-apa."

"Kau salah!", suara itu membahana. "Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa."

Lelaki pertama itu bertanya, "Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?"

"Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan"

Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Banyak orang yang telah mengorbankan segala sesutau demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain, dan janganlah menilai sesuatu hanya dari "yang terlihat" saja.

Sadarkah kita apabila doa kita dijawab Tuhan, sebenarnya karena orang lain selalu berdoa untuk kita, entah itu orang tua, kakak rohani, adik rohani teman-teman kita atau orang lain yang dekat dengan kita.Sudahkan kita memberkati mereka dengan doa-doa kita?

Rabu, 02 Mei 2012

Cerpen Kristen - Malaikat Kecilku Telah Menyelesaikan Tugasnya

Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia.

Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar kisah hidup Olivia yang berjuang melawan penyakitnya sejak usia satu setengah tahun.

Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.

Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.

Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya disebut penyakit Retina Blastoma.

“Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi”, demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.

Bergelut dengan Pengobatan

Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. “Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Matanya sungguh indah, semua orang juga mengakuinya”, berontak sang papa.

Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.

Menurut pengakuannya, meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja.

Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’.

Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan, “Baptis, berarti kamu mesti bertobat!”.

Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.

Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.

Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.

Membawa kepada Kristus

Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar dengan polosnya dan mengajarkan papanya “Dalam masalah apa pun kita harus selalu tersenyum". Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.

Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus.

Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.

Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama, “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”. Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang.

Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.

“Terimakasih Tuhan Yesus”

Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”. Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv”. Tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan.

Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih karunia-Mu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin…”

Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.

Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus”.

Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya, “Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv.” Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia meneteskan airmata.

Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah..” Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar benar menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45.

Tugasnya sudah selesai

Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.

Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya, Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya.

Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.

Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah. Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini.” Detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan”.

Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.

Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana.

Source : sumbercerita.com