Tampilkan posting dengan label Minyak Urapan. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Minyak Urapan. Tampilkan semua posting

Kamis, 01 November 2012

Kuasa Minyak dan Anggur

Ditulis oleh : Samuel Sadusi

Minyak dan Anggur akhir-akhir ini menjadi seperti sebuah kontroversi dalam umat Kristen. Ada yang percaya akan Kuasanya dan banyak juga yang tidak percaya. Memang segala sesuatu tidak bisa dipaksakan kepada seseorang untuk dapat mempercayai hal-hal yang baru baginya, apalagi menyangkut soal IMAN. Iman seseorang bisa timbul setelah ia mendengar secara langsung, melihat, dan mengalami sendiri tentang hal tersebut. Seperti yang dikatakan dalam Roma 10:17 - "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."

Sebenarnya sejak dulu minyak sudah sering digunakan untuk berbagai kalangan, termasuk kalangan gereja. Sebelum saya menjelaskan "Mengapa Ada Kuasa Dibalik Minyak dan Anggur", kita akan melihat kalangan orang-orang yang sudah menggunakan minyak sejak dahulu.  

Kalangan Suku Primitif

Masyarakat Aborigin di Australia percaya bahwa perbuatan baik dari seseorang yang terbunuh dapat dipindahkan kepada mereka yang masih hidup bila mereka menggosok diri mereka dengan lemak dari bagian perut si mati. 
Orang Arab di Afrika Timur meminyaki diri mereka dengan lemak singa untuk mendapatkan keberanian serta melahirkan rasa hormat di kalangan binatang terhadap diri mereka. Upacara-upacara ini seringkali disertai dengan memakan si korban sendiri yang kebaikannya diperebutkan. Lemak manusia mempunyai daya magis di seluruh dunia, karena, seperti dikatakan oleh R. Smith, setelah darah, lemak secara khusus diyakini sebagai perantara dan tempat kedudukan kehidupan.

Umat Hindu menganggap mentega yang dibuat dari susu sapi itu suci, binatang yang dianggap suci di kalangan umat Hindu. Mentega ini digunakan untuk meminyaki rumah yang baru dibangun, orang yang dikuasai oleh roh jahat disembuhkan dengan mengolesinya dengan mentega dari kepala hingga kaki. Mengolesi dengan minyak - dapat pula dengan darah - juga merupakan bagian dari ritual penobatan raja-raja Hindu.

Tradisi Dalam Alkitab

Bagi bangsa Ibrani, pengurapan dengan minyak adalah penting dalam pengudusan seseorang atau sesuatu untuk dipergunakan oleh Allah. Karena itu dilakukan upacara pengurapan imam agung (Keluaran 29:29; Imamat 4:3) dan bejana-bejana suci (Keluaran 30:26). Minyak dijadikan untuk pengobatan dan juga penguburan. Jika seseorang sedang sakit, minyak digunakan sebagai obat dengan diberikan kepada yang sakit, atau diolesi pada luka. (Mazmur 109:18; Yesaya 1:6; Markus 6:13; Yakobus 5:14).

Yesaya 21:5 menyebutkan sebuah ungkapan “mengurapi perisai", hal ini merujuk kepada upacara menggosokkan minyak pada kulit perisai untuk menjadikannya lentur dan layak digunakan dalam perang.

Mari kita perhatikan ayat yang tertulis dalam Markus 14:8 dan Lukas 23:56 :

Markus 14:8 : "Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku".

Lukas 23:56 : "Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat."

Dari kedua ayat diatas dapat kita lihat bahwa pada jaman itu, orang yang sedang sakit dan waktunya sudah tidak lama lagi, mungkin karena sakit keras atau mungkin karena usia yang sudah tua, dioleskan minyak. Hal ini dapat kita lihat ketika Tuhan Yesus berkata dalam Markus 14:8, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku". Selain itu, kebiasaan orang-orang Yahudi kala itu adalah mengurapi atau meminyaki jenazah orang yang meninggal (Lukas 23:56).


Meminyaki juga merupakan sebuah tindakan untuk menunjukkan sikap ramah tamah, dapat kita lihat dalam Lukas 7:38, ketika Yesus diminyaki di rumah orang Farisi.

Kebiasaan di kalangan orang Yahudi untuk meminyaki diri mereka dengan minyak juga sebagai cara untuk menyegarkan tubuh mereka (Ulangan 28:40; Rut 3:3; 2 Samuel 14:2; Mazmur 104:15, dll.).

Bangsa Yunani kuno juga mempunyai kebiasaan yang serupa. Kebiasaan ini berlanjut di kalangan bangsa Arab hingga sekarang ini.

Mesias

Dalam Perjanjian Lama, Sang Penebus dua kali disebut sebagai "Yang Diurapi" atau Moshiach (Mazmur 2:2; Daniel 9:25, 26), karena ia diurapi dengan Roh Kudus (Yesaya 61:1) yang dalam teksnya, merupakan ungkapan kebangsawanan dan kebesaran. Yesus dari Nazaret adalah Yang Diurapi, Moshiach dari Tanakh (Yohanes 1:41; Kisah 9:22; 17:2, 3; 18:5, 28). Kata Kristus adalah sebuah gelar yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu Christos, yang berarti "YANG DIURAPI" (lebih tepat diterjemahkan yang penuh dengan minyak).


Para Imam dan Raja

Imam Agung dan raja kadang-kadang disebut sebagai "yang diurapi" (Imamat 4:3,5,16; 6:20; Mazmur 132:10). Para nabi juga diurapi (1 Raja-raja 19:16; 1 Tawarikh 16:22; Mazmur 105:15).

Mengurapi raja sama dengan menobatkannya. Di Israel raja tidak membutuhkan mahkota (1 Samuel 16:13; 2 Samuel 2:4, dll.). Jadi Daud diurapi sebagai raja oleh nabi Samuel:

Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama. - 1 Samuel 16:13.

Raja-raja Perancis mengenakan fleur-de-lis sebagai lambang baptisan kemurnian ketika Raja Frankia Clovis I memeluk agama Kristen pada 493.



Di jaman Kisah Para Rasul, orang sakit diminyak agar menjadi sembuh.

Yakobus 5:14-15

14 - "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan."

15 - "Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni."

Gereja Katolik Roma dan Ortodoks Timur

Di kalangan Gereja Katolik Roma dan Ortodoks Timur, minyak adalah bagian dari sakramen dari Pengurapan orang sakit. Minyak yang telah dikuduskan juga digunakan dalam upacara penguatan, atau seperti yang kadang-kadang disebut (khususnya di kalangan Gereja-gereja Ortodoks Timur dan Katolik Ritus Timur), krisma, dari kata bahasa Yunani krisma (χρίσμα), yang artinya sarana dan tindakan perminyakan. Gereja-gereja Timur melaksanakan sakramen krisma langsung setelah sakramen baptisan dalam upacara yang sama. Orang Kristen Ortodoks dapat meminta krisma ulangan kapan saja, tetapi biasanya hal ini dilakukan pada masa Minggu Palmarum.

Penyucian minyak di kalangan Gereja Ortodoks

Di antara Gereja-gereja Ortodoks Timur, Myron (Μύρον, minyak suci) untuk pengurapan dipersiapkan secara teratur oleh Patriarkhat Ortodoks (seperti misalnya Gereja Konstantinopel dan oleh berbagai pemimpin administrasi otosefalus (mis. Gereja Ortodoks di Amerika). Penyucian minyaknya dilakukan pada Minggu Palmarum, dan setelah itu, minyaknya didistribusikan ke Gereja-gereja Ortodoks di lingkungan wilayah administrasinya. Myron dibuat dari minyak zaitun dan resep pengharumnya (myra) yang dirahasiakan yang dicampurkan ke dalamnya.


Kata "pengurapan" banyak digunakan di kalangan orang-orang Kristen Pentakosta untuk merujuk kepada kuasa Allah atau Roh Allah yang tinggal di dalam diri seorang Kristen. Penggunaan ini juga terjadi dari waktu ke waktu dalam Alkitab (mis. dalam 1 Yohanes 2:20). Suatu ungkapan yang populer khususnya adalah "pengurapan yang mematahkan kuk", yang diambil dari Yesaya 10:27:

Pada waktu itu beban yang ditimpakan mereka atas bahumu akan terbuang, dan kuk yang diletakkan mereka atas tengkukmu akan lenyap.

NIV menerjemahkan ayat ini demikian, "the yoke will be broken because you have grown so fat" (“beban akan dipatahkan karena engkau telah menjadi begitu gemuk”).

Konteks ayat ini merujuk kepada beban Sanherib, dan bagaimana penindasannya dipatahkan oleh sifat Hizkia yang dikatakan lembut seperti minyak.